Tentang Cinta dan Khutbah Nikah Pagi Ini

Telah kudengarkan janji suci itu. Janji yang dulu biasa kau rapalkan bilamana waktu dan segalanya menetas di setiap kembang ingatan kita. Tentu, ada yang harus segera kita kenang dan kita lepas bilamana cinta telah bekerja dengan begitu mengejutkan pada setiap uraian malam tentang kabar-kabar sunyi yang kau dengar di sudut kamar tempat kita bermain cinta. Ada kepal tangan yang meremas lemah segala rasa, membingkainya pada susunan kata ketika takdir melepas segala isyarat pada perjalanan-perjalanan paling sunyi di sebagian kata. Kita telah bersatu dan menyatu dalam ikatan penuh makna, yang dulu pernah kita rapalkan bersama-sama pada sebait doa di sepertiga malam kepunyaan-Nya. Dan, ingatkah engkau dengan semua jelma kenangan itu ? Ingatkah engkau dengan isyarat-isyarat kecil yang menemukan ruang di sepanjang perjalanan liku kita menempuh jalan cinta dalam sabda terbaik-Nya ?

Jelas, aku masih ingat betul semua perjalanan panjang dan sunyi itu. Ketika cinta bekerja dengan begitu syahdu, mengantarkan bebulir air mata untuk saling mengenang tanda, memberi kita lebih banyak rupa pada setiap jeda keikhlasan yang mengantar kita pulang mengetuk setiap pintu rumah untuk sekedar meminta restu dan ridha atas jalan yang kita pilih. Pagi ini, aku masih mengenang cerita khitbah kita di siang sederhana itu. Ketika paras elokmu bertutur lembut penuh ikhlas menerima segala jalanku, memberiku ruang-ruang sunyi untuk kembali melepas segala tanda, membaca berbagai macam rahasia, lalu kita saling memeluk, dan berkirim lebih banyak doa pada sepertiga malam selepas ucapan basmalah kau lontarkan di siang saat khitbah abadi itu dijelang.

Kini, Minggu pagi telah menjelma nyata di sepanjang jalan hikayat kita. Penuh dengan aroma cinta yang setia mengantar namamu pulang menuju segala pintu sejarah. Ada peneguhan sejati atas jalan-jalan sunyi yang mengekalkan kebersamaan kita. Di sini, kita akan sama-sama pulang mengenang semuanya sendiri. Membiarkan mata menjadi rahasia atas segala yang terucap pada bibir getasmu di depan lelaki bernama ayah. Aku tahu, rindu pada segala jalan bahagia itu telah terbuka nyata semenjak ombak menepi di pantai tempatku biasa menunggumu pulang. Baru kemarin aku berlayar bersamamu, menepikan sejarah cinta kita pada takdir kata-kata yang tak mungkin kita hapus begitu saja. Selalu, doa-doa suci terapal dengan begitu khidmat bilamana cinta bekerja dengan cara ajaibnya, lalu menemukan segala peta bahagia pada perjalanan sunyi kita berikutnya.

Dengarkanlah, semua yang diuraikannya ketika melepas dermaga kita ke lautan lepas. Ketika waktu berbisik pada segala ikhlas, rela dan ridha atas apa yang digariskan-Nya. Kita akan saling menetapkan rasa, membiarkan waktu mengeja semuanya pada jalan-jalan panjang di depan kita. Selalu ada yang ingin kita lepas bila pada fajar paling pagi kita pulang bersama. Menikmati setiap peta harapan pada sisi-sisi lain tentang waktu dan kenikmatan tanpa tepi. Pada hari ini, aku pulang bersamamu, menaikki bahtera yang telah dilepas segala kebersamaan, memutar lebih banyak kenangan indah semenjak waktu dan kabar-kabar paling sunyi itu pulang menjelmakan isyaratnya di ujung perjalanan kita hari ini. Karena, sesungguhnya waktu telah mengantar jalan-jalan abadimu untuk menetap pada rindu di ujung rahasia takdir perjalanan kita.

Lalu tentang mahar yang kukirim kepadamu. Aku hanya ingin menjadi lelaki jujur di matamu. Dan aku pun berharap engkau bisa menjadi perempuan ikhlas di mataku. Karena, pada masa berikutnya aku ingin semua yang dilepas dan melepas bisa menjadi jalan bahagia kita semenjak guru kita berujar teguh tentang apa itu mahar. Dan tahukah engkau, apa ucapannya pagi tadi. Ya, mahar adalah simbol kejujuran, mahar adalah simbol keikhlasan, dan mahar simbol perjuangan susah payahku untuk bisa mengarungi bahtera bersamamu. Aku tak ingin meminta lebih darimu. Aku hanya ingin memintamu menjadi perempuan utuh untukku, menjadi ibu yang utuh untuk anak-anak kita, dan menjadi cinta terakhir yang akan mengekalkan segalanya pada satu jalan suci di ujung jejak kita nanti.

Seperti dalam khutbah nikah pagi ini, aku hanya ingin menjadi satu-satunya lelaki yang engkau cintai. Dan aku hanya ingin engkau menjadi satu-satunya tempat untukku bermain cinta. Aku hanya ingin ijab qabul yang tadi kuujarkan tak hanya menjelma sebatas kata-kata belaka, penegas antara aku dan Rabb-ku bahwa di depan sana beribu tanggung jawab menantiku. Kau dan aku pasti akan mengingatnya baik-baik, sebuah akad adalah perjanjian teguh antara kita dengan Rabb kita. Dan yang menjadi saksinya bukan hanya saudara, karib, kerabat, sahabat atau mereka yang mengenal kita. Namun, Ia dan para malaikat-Nya ikut menjadi saksi dari perjalanan kita. Perjalanan panjang menuju bahtera yang telah dipersiapkan untuk kita, dan mereka akan melepasnya sembari merapal doa barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a baina kumaa fii khair.

Seperti katamu, pernikahan itu seperti sebuah bahtera. Yang akan dilepas menuju samudera luas dengan tepi yang pasti. Dan di bahtera itu aku akan menjadi lelakimu sekaligus nahkoda bahtera, sedangkan kau akan tetap menjadi perempuanku yang ikut mengarahkan serta mengantarkan bahtera kita menepi pada satu jejak doa yang biasa dirapalkan para tetamu di pesta pernikahan kita sebagai yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

2013

#ditulis sebagai ucapan selamat untuk Witri Kodariah dan Ichwan Mulyanto atas perjalanan bahagianya. dan sebagai ucapan penuh hormat kepada guru kalian yang telah menyampaikan khutbah nikah menyejukkan. salam takzim saya untuk Ust. Fauzi, guru kalian berdua.

About these ads