kepada KH. Ma’ruf Amin

MUI-31-5-2016-70-681x409.jpg

Ingatan Seorang Santri
(surat untuk KH. Ma’ruf Amin)

Bismillahirrahmanirrahim

Yai, hari itu mendengar kedatanganmu ke ruang persidangan yang riuh dengan kata-kata asing, dadaku tetiba bungah. Ya, bersebab masih ada orang kukuh dan teguh seperti Buya Hamka yang tetap tegak menjaga marwah juga kemuliaan Islam tanpa ada ketakutan sama sekali. Meski di depan, adalah seorang bebal yang lebih sering memutarbalikkan fakta, menyudutkan banyak orang agar kelak namanya bersih tanpa noda. Di hari itu ia yang menjadi pesakitan tiba-tiba datang menghampirimu, menyudutkan dirimu, lalu melontarkan kata-kata sarkastik tanpa ada jeda sama sekali. Seperti seseorang yang hendak menjatuhkan marwahmu sebagai ulama pewaris para nabi. Dadaku sesak menyaksikan si bebal menyebutkan dirimu begitu rupa bahkan berani mengancammu sampai titik yang tak bisa lagi diampuni.

Yai, aku menyaksikan kesabaranmu di hari itu. Tak ada wajah penuh amarah yang kau tunjukkan kepadanya. Kesabaranmu membentang begitu luas bak samudera. Keteduhanmu seperti menyirnakan setiap emosi di dada seolah kami diingatkan bahwa di Majelis Ulama Indonesia masih ada sosok-sosok teguh dan juga berwajah teduh serta tegas seperti Buya Hamka yang ditekan dari berbagai arah. Tak ada satu pun yang menyangka bahwa engkau akan tetap tegak seperti itu meski dera ujian dan cobaan juga tanya dari mereka yang ingin menghancurkan Islam juga kaum muslimin demikian dahsyat menerpa. Tengok saja, dalam risalah sidang kemarin. Ketika kusaksikan tanya majelis hakim yang terhormat tentang soalan fatwamu yang menyatakan bahwa si begal telah menista dan menghina Qur’an juga marwah para ulama, tanya itu seperti hendak menyudutkan dirimu. Mencari-cari alasan seolah nanti engkau bisa dijadikan terhukum seperti halnya si bebal yang kini duduk sebagai pesakitan di ruang persidangan itu.

Yai, maafkan aku yang belum bisa membelamu. Maafkan aku yang masih terbata-bata membaca juga mengeja sejarah panjang Majelis Ulama Indonesia yang sudah lama dinista juga ditekan begitu rupa oleh mereka para pemangku kepentingan. Tentu kau masih ingat bagaimana fatwa Perayaan Natal Bersama yang dikeluarkan Buya Hamka mulai membuat para pemangku kepentingan gerah bersebab fatwa itu bisa memecah belah keberagaman dan kebhinekaan. Tentu kau pun ingat bagaimana bapak polisi kita yang terhormat mengatakan bahwa satu hari nanti bila Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa mesti dirumuskan bersama dengan menteri agama juga kepolisian bersebab adanya ketakutan bahwa akan terjadi pecah belah bangsa dikarenakan fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Yai, seperti kata Buya Hamka. Ulama itu ibarat kue bika. Dipanggang dari atas dan bawah. Dari atas bermakna pemerintah atau para pemangku kepentingan. Serta di bawah oleh masyarakat. Maka, maafkan aku yang masih gagap meraba cinta di dada ini. Maafkan pula ketidakmengertianku yang akhirnya seperti tidak peduli kepada gerak langkahmu. Maafkan ingatan dan ilmuku yang terbatas ini. Sebab, satu hari nanti aku ingin seperti yang lain membela para ulama tanpa jeda.

Yai, cukup sekian surat belepotan ini kutulis untukmu. Semoga bisa menjadi pengingat bagi diriku sendiri bahwasannya semua yang terjadi dan menimpa bangsa ini pasti ada akar sejarahnya dan tak mungkin terjadi begitu saja.

Titip cinta dari santrimu yang seringkali nakal

Aldy Istanzia Wiguna

Pesan Seorang Bapak

aksi212

I

Nak, sungguh kita tak butuh orang-orang baru untuk menjalankan kepemimpinan ini. Kita hanya butuh satu gerak sederhana untuk membuat semesta gempar sebab alir kebaikan kita yang demikian nyata. Kita perlu bergerak beriringan, bahu membahu serta tolong menolong dalam mewujudkan apa yang pernah kita cita-citakan. Tak perlu simpan curiga lebih dalam di hatimu. Biarkan ia bertumbuh dan menjadi saksi betapa kebaikan bisa melapangkan setiap jengkal langkah kita. Menuntun lalu pulang dan menenun berlembar-lembar kain putih tempat kita mewarnai masa depan kelak. Tentu, mereka yang jauh dari pandangan-pandangan majumu merindu maju sepertimu. Mereka punya cita dan juga asa sama sepertimu. Tak perlu menyombongkan diri, tak perlu merasa paling segalanya. Toh hidup layaknya roda yang berputar. Kadang ia di atas kadang pula ia di bawah. Teruslah maju memburu masa depan yang sudah semestinya kau rebut. Dan jangan pernah lupakan masa lalu. Meski pada satu titik masa lalu pernah menyisakan luka di dadamu. Jangan pernah putus asa dan pantang menyerah pada keadaan yang terbiasa memaksamu menyerah. Katakan pada dunia bahwa pada saatnya nanti kau takkan lagi menjadi seorang pengalah tapi layak berdiri tegak sebagai seorang pemenang. Anggap saja semua yang kau jalani hari ini sebagai pijakan awal atas apa-apa yang telah kau putuskan sendiri. Sebab, meski hidup adalah pilihan. Bukan berarti engkau layak menentukan. Engkau memang akan menentukan jalanmu sendiri pada saatnya nanti. Tapi usaha tanpa hentimu takkan mungkin berkhianat kepada hasil. Jangan pernah ragu untuk melangkah. Lawan setiap kata tidak yang menggoda dirimu untuk beristirahat sejenak dari goda dunia yang demikian menggiurkan. Biarkan masa lalu tetap menjadi bahan pembelajaran atas apa-apa yang kau putuskan. Asalkan kau tetap tangguh juga teguh dalam mempercayai masa depanmu yang gilang gemilang nanti. Berusahalah sebaik mungkin jangan sebisa mungkin. Sebab masa depan bukan soal apa yang engkau usahakan. Tapi hasil paling manis yang akan kau terima dari usaha-usaha panjangmu yang tak berjeda. Biarlah perjuangan ini dianggap lain oleh orang-orang di luar sana. Biarlah kita beda dengan mereka. Asal kita yakin bahwa perjuangan takkan pernah mengenal kata putus asa juga pantang menyerah di dalamnya.

II

Untukmu duhai anakku yang tak pernah lupa jalan pulang. Ingatlah akar perjalanan yang tetap kukuh membawamu pada sekian banyak medan juga terjal untuk saling meneguhkan juga mengingatkan. Ingatlah pula hikayat dakwah yang mengajak bukan mengejek juga ihwal hikayat dakwah yang memberi jelas bukan sekedar menebar puas. Jadikanlah sabar sebagai senjata awalmu untuk merentangkan perjalanan-perjalanan baru ini. Biarlah setiap daya ikhtiarmu dinilai oleh Ia yang Maha Pemberi Kelapangan. Jangan pernah busungkan dadamu bila engkau masih sering lupa pada ikhtiar-ikhtiar panjang yang membuat dirimu kini sampai di setiap pucuk pusaran. Menjelma gelombang paling menakjubkan ketika kita dan riuh kata-kata tetap mewajibkan segala pertanyaan menemukan jawabnya pada apa-apa yang kemudian kita simpulkan. Belajarlah agar kelak engkau menjadi pribadi-pribadi tangguh yang seyogyanya tetap rendah hati. Ibarat padi yang semakin berisi, maka ia semakin merunduk. Tak perlu merasa menjadi paling ketika pada akhirnya di atas langit masih ada langit. Juga di atas pohon yang rindang tempatmu biasa berteduh masih ada yang lebih rindang. Tetaplah menjadi dirimu yang sederhana, menjelaskan riak-riak kebaikan sebagai sesuatu yang tetap mesti kita amalkan. Buatlah lapis-lapis bumi juga langit bergetar bersebab apa yang kau bagikan tetap menjadi maslahat juga manfaat bagi semesta. Tak perlu merasa rendah juga merasa menjadi tak layak. Sebab kebaikan ada untuk dibagikan bersama. Bukan oleh mereka yang berilmu tinggi, berpangkat tinggi, atau mereka yang terbiasa dengan hidup kelas atas. Kebaikan adalah isyarat yang terus menggetarkan dadamu. Lantas pulang dan memberangkatkan dirimu pada titik-titik tanpa tepi dimana setiap jalan usaha yang kau lakukan selalu berada dalam lindungan juga berkah dari-Nya yang tanpa tepi. Tak perlu meragu apalagi mundur ke belakang sejenak. Percayalah, pada saatnya nanti engkau akan memetik buah paling ranum dari kebaikan yang kau sebar dan tanam ini. Jadikanlah semuanya sebagai dukungan awal untuk dirimu tetap melangkah, melapangkan hingga meluaskan apa-apa yang engkau cita-citakan selama ini. Biar saja mereka berpura-pura tidak mendengarkan dirimu, tidak menggubris ucapan dirimu. Sebab, satu hari nanti segala daya ikhtiar dan hasil jerih payahmu akan mengubahnya menjadi riuh tepuk tangan yang akan semakin menguatkan langkahmu untuk tetap menjadi pemenang berikutnya.

III

Anakku, tak ada yang sia-sia di sepanjang perjalanan ini. Adakalanya kita merasa perlu menyepi dari hingar bingar dunia. Dari teriakan-teriakan mereka yang silih berganti datang mengajak kita untuk turut terlibat dalam serangkaian pembelaan terhadap marwah juga kemuliaan Islam. Bukan ayah takut atau tidak pemberani. Ayah hanya tengah meraba sesuatu. Barangkali benar, sebab peperangan bukan sekedar soal senjata maha dahsyat. Bukan sekedar komandan yang tangguh juga bukan sekedar siapa yang layak menjadi pahlawan. Ini soal mengikhlaskan hati, nak. Soal bagaimana bergerak tetap mampu menebar manfaat juga maslahat. Soal pekerjaan rumah berikutnya yang tak boleh kita abaikan begitu saja. Ayah jadi teringat satu wasiat sederhana ibunda kita, ibu Soeharsikin kepada lelaki yang dikasihinya, kepada kekasih kinasihnya, kepada kawan seperjuangannya, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Ia berpesan, kamu boleh membangun gagasanmu sebesar-besarnya, seluas-luasnya. Tapi ingat, jangan sampai gagasan besarmu itu merusak rumahmu sendiri. Ya, dari secarik pesan sederhana itu kita belajar tentang bagaimana seharusnya kita berpijak. Kalau kau tak melihat ayah ada pada gelombang masa di hari itu. Gelombang yang tercatat purna dalam catatan sejarah kita. Maafkan ayah, sebab ada tugas yang sama pentingnya bagi ayah di hari itu. Tugas sederhana untuk melengkapi berhimpun agitasi di hari itu. Ya, tugas yang telah diamanahkan para pemimpin kita juga para ulama kita dalam Piagam Jakarta yang sampai hari ini tugas kemerdekaan itu belumlah usai ditunaikan. Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Bila di hari itu engkau tidak melihat ayah, maka ayah tengah berada di dalam kelas. Memberikan suntikan semangat juga mengajarkan kepada anak-anak pewaris negeri ini. Ayah tengok wajah juga senyum mereka satu per satu. Ayah bisikkan dan gelorakan dalam dada mereka tentang hikayat ayah dan ibu mereka yang tak kunjung usai memperjuangkan setiap jengkal kebaikan untuk mereka. Ayah yakinkan pada mereka bahwa kelak merekalah yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin yang tak tahu diri itu. Pemimpin yang tempo hari melukai rasa berjuta umat yang turun di hari bersejarah ini. Pemimpin yang mengatakan bahwa umat telah dibohongi oleh salah satu ayat dalam himpunan surat cinta terindah-Nya yakni Al-Qur’an. Padahal sejarah telah membuktikan bahwa apa yang disampaikan sang pemimpin berkaitan dengan ayat tersebut adalah bohong belaka. Tengok saja hikayat Amirul Mukminin Umar ibn Khattab saat ia memecat seorang lelaki Yahudi. Seseorang yang dikenal cakap dan bagus dalam hal kepemimpinan. Seorang yang konon katanya tak pernah sekalipun diragukan amanahnya dalam memimpin. Tapi, Umar justru memecatnya. Sebab ia tahu, bahwa Qur’an melarangnya untuk mengangkat seorang pemimpin yang bukan muslim. Lalu mengapa ayah tetap tidak turun di hari itu? Barangkali itu tanyamu yang ke sekian kali untukku. Yakinlah, kalaupun ayah tidak turun bukan berarti ayah abai pada semua persoalan negeri ini. Ayah tidak turun sebab ayah tengah mempersiapkan mereka untuk menggantikan orang-orang tadi. Agar negeri kita tercinta tetap ada dalam bimbingan juga panduan-Nya hingga baldatun thayyibatun wa  rabbun ghafur bisa mewujud nyata pada setiap sendi kehidupan bernegara di negeri ini. Termasuk mengajak setiap pemimpin negeri untuk bersegera menetapkan aturan Qur’an dan Sunnah serta mencampakkan aturan manusia yang mencelakakan.

IV

Anakku, manusia itu diciptakan dari air yang bergerak supaya manusia bergerak. Maka bergeraklah dan Allah bersama orang-orang yang bergerak. Tapi, kita juga mesti berbagi tugas. Mesti mengisi ruang-ruang kosong yang seringkali luput dari ingatan kita sampai-sampai ruang itu akhirnya diisi oleh mereka musuh-Nya. Bukan ayah tidak suka dengan aksi ini itu. Tapi ayah ingin kita berbagi tugas dan tetap bersatu dalam satu aturan-Nya, satu ketentuan-Nya, juga satu komando-Nya. Bergeraklah nak, jadilah air jernih agar kelak engkau bisa menjadi bagian dari generasi yang menjernihkan. Pekalah dan janganlah abai pada soal-soal sederhana semisal adab dan kesantunan. Jadikan adabmu sebagai seorang hamba juga manusia biasa menjadi jalan juga nyala yang kelak menerangi semesta. Jadilah dirimu sendiri agar kelak kau bisa menjadi cahaya yang benderang di kemudian hari.

Ciparay, 26 Desember 2016

seseorang yang merindumu pulang

Muhammad

surat

Teringat hikayat kekalahan itu. Ketika kemenangan berubah menjadi petaka. Ketika ruah harta berubah menjadi nyeri tak berperi. Aku ingat bagaimana wajah sendu itu menatap Hamzah sang paman yang pulang dengan sejumlah nyeri dan ngilu. Membayangkan sendiri bagaimana umat bergemuruh tak menentu ketika dirinya dikabarkan terbunuh di medan laga. Membayangkan betapa sakitnya anak panah, ranjau daratan, luka di pelipis dan beberapa giginya ikut rontok. Namun, ia merasa itu tidaklah seberapa tinimbang ketika pilihan menghancurkan suatu kaum ada di genggamannya. Lihatlah, banjir besar yang menenggelamkan kaum Nuh, laut Merah terbelah dan menyelamatkan Musa atau kedahsyatan-kedahsyatan lain yang menimpa banyak kaum pongah di masa silam. Ia tetap tak bergeming. Yang lahir dari ucapannya yang terpuji justru pengharapan tiada batas yang selalu tenang.

Duhai lelaki yang lembut tutur katanya. Izinkan aku menelusuri setiap kebaikan itu. Izinkan aku kembali membayangkan tangismu yang lirih ketika Allah datang menegurmu dalam surat ‘Abasa. Izinkan aku membaca rona wajah lelaki bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang kini kukuh menjadi salah satu muadzin terbaikmu. Lelaki yang hatinya kini benderang bersebab luncuran hidayah dan petunjuk penuh cahaya yang tak tertolak darimu. Aku ingat ketika pada satu waktu kau demikian sibuk mendakwahkan Islam kepada para saudagar dan pembesar Quraisy yang jelas membencimu. Lalu datang seorang lelaki buta bertanya tentang keindahan Islam. Dengan wajahmu yang bermuka masam kau anggap tanya dan juga lelaki itu tiada, lalu di saat yang bersamaan Jibril sang penjaga dan penyampai tuturan indah dari Pemilik Surat Cinta menegurmu hingga akhirnya kau tetap menjadi rahmat bagi seluruh semesta.

Duhai lelaki yang lembut hatinya. Pada detik ke berapa aku merasakan setiap kekalahan itu tetap menjadi sesak di dada. Ketika wajah para syuhada itu tersenyum tenang menyaksikan surga di depan jalan mereka. Ketika Sumayyah dan Amr tetap yakin bahwa tombak yang hendak ditancapkan para musyrikin Quraisy adalah Firdaus yang akan menjadi tempat pulang mereka. Engkau dengan wajah paling teduh, dengan senyum dan haru yang tak terbayangkan tetap ada di samping mereka. Menjadi saksi betapa sabar dan ketabahan mempertahankan iman sepenuh jiwa telah mengantarkan mereka kepada surga dan kebaikan-kebaikan tak berhingga di ujung jalan itu. Engkau tahu, pada akhirnya kita akan berangkat bersama-sama. Tegak dalam bebayang doa dimana rindu adalah keterasingan yang sama-sama membaca kebaikan di sepanjang perjalanan ini. Tetap menjadi cahaya ketika kekalahan datang dan menjumpai dirimu di sebalik labirin keterangan. Meneduhkan pilihan-pilihan indah pada beberapa jawaban dimana kebaikan adalah rumah yang kelak akan membawa dirimu berpulang. Merayakan hari kemenangan dalam doa-doa panjang yang tetap lengang. Menulis sepotong kabar pada sebagian sebab tentang penjelasan membahagiakan di hari-hari kita yang sunyi. Langkahmu, kebaikanmu, dan setiap perjalananmu kini tetap menyertai serangkaian tanda dimana panduan hidupmu ialah detak waktu yang merindukan kebersamaan denganmu. Melipat lalu membersamai alasan-alasan asing. Memperkuat diri sendiri di sepanjang perjalanan yang memberi keberjarakan dalam bahagia.

Duhai lelaki yang penuh cinta, maafkan bila kedatangan surat ini tetap riuh dalam bebayang harap. Aku tahu, belum tentu kita bisa bersua dalam percakapan-percakapan panjang tentang umat di hari ini. Ketika kita merindu untuk bersatu, mengenyampingkan segala beda yang tumpah ruah di sepanjang perjalanan zaman. Aku tetap merahasiakan kebaikan-kebaikan lain yang bertumbuh bersamamu. Utuh pada beberapa ejaan tentang kebaikan dan kepulangan yang tak berkesudahan memberi kita makna. Menafsirkan alasan-alasan terbaik ketika akhirnya perjalanan-perjalanan panjang dan lengang ini tetap membentuk masing-masing pribadi dalam keutuhan cinta dan kasih semestamu. Maaf bilamana ada yang kurang dengan apa yang kutulis ini. Dan maafkan pula bila pada detak waktu yang menjentik, pada hari-hari yang membersamaimu, pada keriuhan dan segala perjalanan yang tiba-tiba menghadirkan rindu di setiap perjalanan tentang mencatat dan meyakinkan siapapun kita. Aku hanya ingin pulang merindu namamu yang satu. Menjadi bagian di sepanjang alir barisan yang tetap utuh membaca apapun tentang rindu. Menasabkan rangkaian rindu dimana pada akhirnya cinta dan segala kebaikan yang kau tuturkan menjadi penyemangat atas hidup yang singkat ini. Menangkap pertanda dalam doa-doa sunyi dan panjang kita yang tak berkesudahan dirapalkan ketika di detik-detik paling sunyi aku merasa jauh darimu. Lalu sekelilingku tetiba gelap pada upaya-upaya tentang menjelaskan kebaikan hingga apa itu kebahagiaan pada uraian-uraian menakjubkan sampai nanti.

Duhai lelaki yang terjaga dari kata sia-sia. Maafkan bila pada suatu waktu ada diantara kami kedapatan menjadikan pribadimu sebagai alasan untuk saling membenci, untuk saling menyalahkan, bahkan sampai mengatakan kafir kepada saudara sendiri sebab kaidah dan juga tatacara sederhana untuk memahami ajaran dan sunnahmu seringkali dianggap jauh dari apa-apa yang pernah terekam hingga tercatat dalam kitab hadits para pencintamu. Tengoklah sejenak ketika dua kampung terlibat benci teramat sangat bersebab beda di pelataran kaidah. Bersambung menjadi dendam kesumat sementara perihal-perihal yang lebih penting dari itu terkadang kita abaikan. Duh, maafkan lidah kami yang kelu ini. Lidah yang sering bertutur beragam kata sia-sia, memantik api Jahannam hingga nyalanya bisa saja membakar bahkan menyiksa diri kami sendiri hingga ujung dari perjalanan itu membuat sesal di dada kami kini tiadalah guna. Maafkan bila akhirnya hati kami demikian kering untuk mengenal kedamaian risalah yang kau bawa untuk kami. Maaf bila kami gagal memaknai Islam sebagai rahmat bagi semesta. Maaf pula bilamana kami seringkali menjadikannya alat untuk menjatuhkan tiap orang dan pribadi ketika apa yang dilakukannya menjauh dari apa itu syari’at Islam. Tolong berilah kami restumu untuk menyampaikan risalah ini dengan tata cara yang hanif. Tata cara yang tak butuh sekedar tegas tapi juga jelas untuk disampaikan kepada siapapun tanpa ada sekat diantara kedunya. Maaf bila kami selalu datang dan terlampau sering memperalat namamu untuk kebencian di sini.

Duhai pemimpin umat, ajarkan kami untuk tetap menjaga keutuhan ini. Sebab kami seringkali lupa memaknai tuturanmu tentang tujuh puluh tiga golongan yang akan masuk ke dalam panasnya bara api Jahannam sementara ada satu golongan yang selamat darinya lantas kelak singgah di surga bersamamu. Di negeri kami yang seringkali kacau balau ini, kami punya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Sarekat Islam, Al-Irsyad bahkan Persatuan Islam. Namun, sayang atas nama organisasi yang membesarkan diri kami sendiri. Sering kami merasa berhak memimpin segalanya. Menyempurnakan tiap aturan dalam perjalanan membangun dan memberdayakan umat di kemudian hari. Kami sering merasa paling unggul dalam medan dakwah ini. Kami sering merasa jumawa ketika pengikut yang hadir di belakang kami jumlahnya jutaan kali dan berlipat-lipat banyak. Padahal kami merasa hampa dan hanya memperalat namamu saja untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya suara dalam pemilihan umum. Sementara aturan-aturan yang telah kau ajarkan dalam bilangan tuntunan sunnahmu seringkali kami tepis bahkan terlalu sering kami anggap utopis dan tiada gunannya. Maafkan bila jalan yang kami tempuh ini tetiba membuat dadamu berkecamuk emosi. Berubah menjadi nyala merah sementara cinta itu masih tersimpan begitu rapi entah untuk siapa. Sungguh, kami rindu masa-masa terbaik itu. Kami rindu untuk mengembalikan catatan-catatan itu. Dan kami benar-benar merindu untuk menjadikan dirimu sebagai uswah dalam mempersatukan umat bukan malah memecah belah.

Duhai ayahnya Qasim, maaf bila kami lebih sering merasa terganggu sebab-sebab kebaikan dan kegaduhan yang dicipta anak-anak kami. Maaf bilamana kami merasa masjid adalah tempat yang tidak layak bagi anak keturunan kami sebab mengganggu kekhusyukan kami dalam beribadah dan menyempurnakan sunnahmu. Maafkan kami yang gagal menjadi ayah juga penjaga dari adab kebaikan anak-anak ini. Maaf bilamana kami lebih banyak membentak dan memarahai mereka tinimbang memberikan penjelasan atas kesalahan yang mereka perbuat. Kami lebih tahu menghukum mereka tinimbang menjelaskan apa kesalahan dan memperbaikinya menjadi lebih baik lagi. Sungguh, kami merasa gagal untuk mengikuti dirimu dalam hal-hal sesederhana ini. Kalau pada akhirnya kebaikan kami untuk tetap berada di jalan sunnahmu justru lebih mendekatkan kami pada percik api Jahannam. Kami benar-benar ingin berlindung dari pedihnya siksa itu. Kami takut bilamanna jejak yang kami tinggal tak berguna apa-apa di sisi-Nya kelak. Sungguh, kami ingin pulang untuk bisa belajar menjadi sepertimu. Meluruskan tiap pandangan dimana perjalanan-perjalanan menakjubkan adalah keterangan dan keterasingan yang tak kunjung usai mengingatkan siapapun juga. Di sini, kami mesti belajar banyak kepadamu. Belajar tentang apa itu cinta dan memaknainya dengan cara-cara yang sederhana. Lalu berjalan meringkas tanda-tanda terbaik. Merapikan setiap kabar di sepanjang catatan yang mengasingkan kita dengan jalan-jalan yang demikian sulit untuk ditempuh meski itu jejak kebaikan dirimu.

Duhai datuk Hasan dan Husein, izinkan kami untuk tetap menjadi bagian dari meneladani sikap dan pekertimu yang luhur itu. Tetap menjadi kakek terbaik sepanjang masa ketika kami merasa tidak punya pegangan apa-apa dalam mendidik dan meluruskan jalan anak cucu. Lalu kami belajar pada upaya-upaya sederhanamu untuk tetap mengabarkan kebahagiaan dalam senarai rindu di sepanjang doa-doa yang tak kunjung usai dirapalkan. Ingin rasanya menjadi bagian dari separuh perjalananmu. Mencatat kebaikan-kebaikan yang tak berkesudahan hingga perjalanan ini tetap memberi arti dan juga sehimpun makna tentang bagaimana keberanian hendak diabadikan. Sebab, segala puji hadir untukmu. Untuk cinta yang tak lekang dimakan usia, untuk kebaikan yang tetap bersetia menyertai langkah-langkah kecil kita menaklukkan perjalanan di dunia. Juga semakin mengutuhkan tentang tunduknya hati dan diri dalam satu perjalanan menggenapkan dimana kebaikan adalah jembatan yang tetap membuat kita benderang pada amsal-amsal sederhana hingga kebaikan di kedalaman sana menjelma cahaya yang menerangi seisi bumi. Menggemakan alam semesta, merayakan kebaikan pada satu jiwa dimana tuturan dan amal baikmu adalah jalan penghubung yang kelak mendekatkan nikmat akhirat dalam hidup setiap anak manusia. Belajar untuk tetap mengalirkan kebaikan, menelusuri jejak dan jarak kerinduan. Menggemakan hari-hari dalam doa-doa panjang serta selusur tindak-tanduk yang kelak mengembalikan kita pada apa-apa yang kau tanggalkan dan tinggalkan untuk umatmu.

Duhai lelaki yang hatinya terjaga. Sungguh kami selalu merasa setiap kisah yang tertutur indah darimu adalah kebaikan tak kunjung usai. Merapikan tanda-tanda sederhana dimana keberangkatan ialah kata yang tetap menghimpun kebahagiaan. Maaf bila kami tidak mampu menjaga hati yang rapuh ini. Maaf bila gejolak amarah terkadang tak mampu kami redakan. Maafkan pula bila kami lebih sering menuding orang lain berbuat salah sementara lidah kami teramat kelu untuk berujar tentang kemenangan-kemenangan itu. Maafkan kami bilamana sering menganggap apa yang kami yakini lebih dari apa yang mereka yakini. Maaf bila kami lebih sering salah dalam berniat ketika tindak-tanduk kami justru semakin nyata memantik api Jahannam dalam diri kami sendiri. Pada akhirnya, ketika kami memilih kembali menjadi orang asing. Menjadi seorang bodoh yang tak pernah selesai belajar dari apa-apa yang menjadi perilaku baikmu, sunnah yang tetap menjaga kami agar tidak mudah dalam menafikan kebaikan orang lain, lidah yang lebih sering berujar kata dan kalimat sia-sia. Sungguh, langkah kami teramat jauh bila benar dibandingkan dengan setiap tanda dan ujaran yang engkau titipkan kepada kami. Kami seperti kehilangan panduan dalam upaya agar tetap taat pada aturan-Nya juga sunnah-sunnahmu. Kami seperti menjadi orang lain yang demikian mudah menyalahkan apa-apa yang tak pernah bersumber darimu. Maaf bila kami merasa kalah dan tak ada guna apa-apa dibandingkan sahabat-sahabatmu. Sebab kami masih belajar agar satu hari nanti bisa menjadi sepertinya.

Duhai lelaki pemilik kemenangan nyata. Sesekali aku sering terisak saat membaca hikayat perjalananmu menundukkan Mekkah. Mengeja setiap kata maaf yang meluncur deras dari bibirmu ketika orang-orang yang dulu memusuhimu demikian takut akan diusir dari tanah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Namun, cinta dan kasihmu justru mampu mengalahkan itu semua. Tak ada pendar benci dari kedua kelopak matamu ketika orang-orang itu datang dan berbondong-bondong menemuimu. Berharap engkau akan mengampuni mereka hingga membebaskan mereka dari segala tuntutan. Dan kelak, engkau menjadi saksi bahwa mereka datang padamu tak hanya berharap perihal itu saja. Mereka datang untuk bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan engkau sebagai utusan-Nya. Lihatlah binar bahagia wajah-wajah itu. Wajah yang menjadi saksi betapa kemenangan dalam Islam adalah keniscayaan yang tak akan pernah bisa ditolak siapapun. Sebab, pada akhirnya kemenangan adalah buah dari perjuangan panjang ketika pada titik-titik tertentu kita benar-benar yakin bahwa kekalahan demi kekalahan ialah satu penanda sederhana tentang kemenangan yang dinanti akan segera tiba. Melipat keberjarakan dan memendekkan setiap perjalanan dan ujian yang berdiri tegak diantara keduanya. Membuatnya kukuh seperti karang yang tak pernah hancur dihantam ombak. Sebab, di satu masa yang sama kita pernah benar-benar merindu menjadi apa itu kebaikan. Berjuang di jalan-jalan lengang ketika sebagian sebab dan perihal tentangnya menjadi doa-doa yang membuat syahdu.

Duhai lelaki berbenak jeli. Pada akhirnya kita akan pulang dalam doa-doa yang menyederhanakan kebaikan. Menyimpulkan segala isyarat dimana perjalanan adalah kebaikan yang telah dipersiapkan dengan demikian indah. Menjadi bagian dari berkarib tanda tentang doa-doa yang butuh perjuangan nyata. Tentang firasat dan isyarat yang tak hanya sekedar dirasa tapi juga dijadikan semacam panduan saat akhirnya semua yang dirasa di dada tiba-tiba hadir dalam untaian ayat di ujung surat cinta maha indah. Engkau benar, tak ada yang sia-sia di sepanjang perjalanan ini. Segalanya adalah hikayat tentang kebaikan yang menjadi rahmat bagi semesta. Tentang lipatan doa-doa hingga ribuan aksara yang utuh membaca setiap mukjizat dari apa yang selama ini engkau perjuangkan. Engkau tahu, aku benar-benar lumpuh mencintaimu. Tanganku serasa gigil hingga bibir ini terkadang kelu ketika menafsir segala untaian kebaikan yang hadir dari detak-detik kebaikanmu. Cinta kasihmu tak pernah bisa kita ukur meski itu sampai jauh ke kedalaman samudera. Sebab, ia ada untuk menjadi kebaikan pada masing-masing jalan dimana rindu di dada ini adalah kebaikan yang menerjemahkan semesta hingga hari paling membahagiakan itu tiba. Hari dimana kemenangan hingga bersatunya umat dalam satu naungan adalah kabar terbaik yang tak pernah usai meredupkan cinta dalam dada yang berdentum untuk mengabadikan setiap jalan hingga keberjarakan dimana doa-doa ini tetap menjelaskan betapa kebaikan adalah jalan paling indah juga terjal untuk mempertemukan segalanya di sepanjang jalan sunyi.

Duhai lelaki penyeka lara. Aku teringat ketika air mata itu turun dan mengalir deras dari kedua kelopak matamu. Menyertakan berkarib kabar dimana perjalanan dan perjuangan yang serba tak mudah itu pernah kau lewati bersama sahabat-sahabat terbaikmu. Aku ingat satu episode terindah ketika Abu Bakar Shiddiq demikian rapi dan jeli dalam menjagamu agar terhindar dari serangan musuh. Lalu keberanian dan keteguhan seorang Umar bin Khattab ketika dengan keberaniannya mengerahkan setiap daya dan upaya untuk tetap berada di jalanmu dan terus mendakwahkan apa-apa yang mesti disampaikan ketika kemunkaran tegak dengan segala hingar bingar kejahiliyyahan. Atau hikayat seorang Utsman bin Affan yang selalu lapang ketika berinfak demi tegaknya perjuangan Islam. Atau kisah Ali bin Abi Thalib kemenakan dan menantumu yang selalu hadir menjadi penyejuk di hati umat. Atau hikayat cinta dan semesta kinasihmu pada seorang perempuan bahagia bernama Khadijah binti Khuwailid yang memberikan kepercayaan, ketenangan, juga segala perihal terbaik dirinya untuk membenarkan apa yang kau terima ketika orang-orang di sekelilingmu mendustakan kebenaran yang engkau bawa. Atau hikayat Sumayyah, Yasir, Khabbab, Bilal serta sahabat-sahabat terbaikmu di segala penjuru yang tak pernah putus menerbitkan harap tentang kemenangan dan kebahagiaan hakiki dunia akhirat yang bisa dicapai siapapun tanpa ada sekat apapun. Ya, pada titik ini aku benar-benar cemburu kepada sahabatmu itu. Cemburu untuk bisa ambil bagian dalam berjuang bersamamu.

Duhai lelaki yang tak pernah kalah. Sungguh, aku yang bodoh dan tak tahu malu ini belajar banyak darimu. Belajar tentang kekalahan dan kemenangan yang tak boleh membuat kita lupa sebagai manusia. Belajar bahwa pada saatnya nanti semua kemenangan itu kembali dan tetap menjadi kepunyaan-Nya. Aku sadar, bahwa tak ada guna keluh panjang ini. Tak ada arti apa-apa setiap lengang kesunyian ini bilamana aku kembali membuka perjalanan-perjalanan paling haru dari setiap catatan dan hikayat keberanianmu. Engkau memang tak pernah kalah meski Uhud memberimu kenyataan akan hikayat dan catatan kekalahan itu. Engkau adalah pemberani yang tak pernah selesai memberikan kebaikan-kebaikan di sepanjang jalan hidupmu yang purna hampir seribu empat ratus purnama. Dan engkau tahu, aku masih membaca detak-detik kemenangan itu. Merasakan apa itu gemetar rindu dimana akhirnya kepulangan dan keberangkatan tak perlu dijadikan alasan untuk menyerah pada kehidupan.***

#teruntuk yang cintanya tak pernah usai

maaf bilamana tuturan ini sempat menjauhkanku dari cinta kasihmu

 

Doa Peluru

monas

secarik pesan damai

teruntuk Presiden Republik Indonesia

di Istana Merdeka

Bapak, kuhaturkan doa tanpa bilangan untukmu yang tengah tegak memimpin di kursi utama negeri ini. Beribu salam kuuluk kepadamu ketika kata-kata ini hanya menjadi buih dari beribu atau bahkan berjuta agitasi yang menjumput cinta juga berharap keadilan dan ketegasan berpendar dari kedua matamu. Segala tindak-tandukmu tetap dinanti ketika seberang ingatan mengembalikan aku dan berjuta rakyat negeri ini pada masa-masa dimana engkau pernah duduk menjadi seperti orang yang kini namanya demikian hangat kami perbincangkan. Lalu menjadi keriuhan juga kesibukan lain tanpa jeda dimana uluk salamku terkadang dianggap suatu kemunduran oleh mereka yang lebih daripada aku.

Bapak, bila kedamaian dan ketenangan ada dalam uluk salamku kepadamu. Aku ingin engkau bisa menjelaskan kepada mereka dengan sejelas-jelasnya. Tak perlu ditutupi apalagi disalahartikan. Sebab, uluk salam adalah kedamaian yang sama-sama kami rindu. Aku terharu, ketika hari ini jutaan orang datang ke Silang Monas untuk menjaga agar bangsa ini tetap teduh, damai, juga tenang. Tak perlu risau apalagi gelisah ketika apa yang diperjuangkan di ujung 4 November kini menemukan titik terang meski pada satu waktu ada orang-orang yang memilih bersiaga sembari mengawal ketegasanmu dalam urus-urus hukum yang katanya tak pernah tegak semenjak dirimu duduk di kursi kekhalifahan.

Bapak, apa arti nista di matamu ? Masihkah engkau mampu menggerakkan berjuta rakyatmu agar tetap tenang dan berlaku adil kepada siapapun tanpa pandang bulu. Masihkah kau bisa kami percaya ketika orang-orang di sebalikmu menghendakki lain orang yang pernah duduk sebagai nomor dua di samping dirimu. Tak perlu ragukan kami. Kami bisa mengawalnya dengan sikap kami sendiri. Bila pada satu waktu engkau pernah menjumpai kami tetap tegas menyampaikan agitasi-agitasi itu kepadamu. Tolong kau bertindak tegas. Tak perlu mengintervensi siapapun, sebab yang kami lakukan adalah setitik cinta untuk menggerakkan keberanianmu yang selama ini lemah semenjak ada ibu di samping jalanmu itu.

Bapak, tentu engkau paham mengapa kami melakukan semua ini. Mengapa kami memilih turun ke jalan lalu menyampaikan agitasi-agitasi itu dengan gagah berani. Maafkan kami, pak. Kami hanya butuh ketegasan darimu. Kami butuh engkau sebagai pelayan juga pemandu kami dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri pancaroba ini. Kami ingin engkau memandu dan melayani kami dalam segala bidang sesuai dengan aturan Qur’an juga Sunnah. Kami ingin engkau tetap menjadi pemberani sebagaimana para pemimpin sebelummu. Tentu kau ingat sebuah kisah tentang seorang khalifah yang bersiap memberangkatkan pasukan yang panjang serta banyak pasukannya membentang dari Romawi sampai ujung kota Baghdad demi membela kehormatan warga negaranya juga menegakkan keadilan ketika warga negaranya dinista demikian rupa oleh orang tak beradab di negeri orang. Sementara ini, ketika ucapan itu menyalahi tindakan. Ketika urusan memilih dan memilah pemimpin tak perlu dipandu Qur’an lalu dilihat saja kebaikannya selama memimpin. Tolong, pak. Ajarkan kepada kami, dimana kami mesti mengambil keputusan begitu rupa. Bukankah Qur’an sudah jelas menegaskan kepada kami bahwasannya urusan kepemimpinan haruslah dijalankan oleh mereka yang Muslim bukan yang lain. Sebab apa, sebab kami paham ketika baginda Nabi memberikan petuahnya ihwal amanah kepemimpinan yang tak diserahkan kepada bukan ahlinya. Tentu bapak bisa menebak maksud dari petuah baginda Nabi itu. Ya, kehancuran, bencana juga berbagai bala adalah konsekuensi logis yang mesti diterima ketika amanah kepemimpinan diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Dan itu alasan mengapa kami tetap bersikukuh untuk mengawal titik-titik masalah ini agar kelak menemukan titik terangnya dalam sebab-sebab yang membuat kami kini mengerti ihwal kepemimpinan, kebersatuan, juga negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang kami rindu.

Bapak, bila pada uluk salamku engkau tak pernah menemukan keteduhan dan kedamaian. Tolong maafkan aku. Maaf bilamana pekerjaan ini dan itu membuat pikiranmu tersita cukup banyak. Aku tahu, pada satu waktu ketika dirimu rihlah sana-sini. Mencari semacam solusi sederhana atas persoalan juga permasalahan bangsa yang akhir-akhir ini datang dan pergi menguji seberapa layak engkau menjadi seorang pemimpin. Ketika banyak orang di sekitarmu mulai menyalahgunakan amanah yang kau bebankan di pundak mereka. Ketika kepentingan keluarga dan orang dalam lebih diutamakan tinimbang kepentingan rakyat kebanyakan. Dadaku sesak dibuatnya. Ya, semacam sebuah perih yang tak bisa dijelaskan semenjak engkau memutuskan untuk tidak menemui jutaan rakyatmu yang datang berkunjung menunggu seberapa tegas dirimu dalam menyelesaikan persoalan yang membelit kawan karibmu itu. Kawan karib yang terang-terangan menista Qur’an yang harusnya memandu dirimu untuk menyelesaikan setiap persoalan kebangsaan juga kemanusiaan yang tak pernah mereda itu.

Bapak, tengoklah peluru juga kokang senjata yang dipertontonkan pasukan elitmu beberapa waktu lalu. Ketika orang-orang tak bersalah ditembak dan dikejutkan dengan bebunyian juga derak sepatu lars mereka. Tubuh ini tetiba menggigil saja. Menyaksikan orang-orang yang dituduh pengacau main tembak tanpa ada proses penyelidikan. Dadaku bergetar menyaksikan betapa banyak nyawa orang yang tak bersalah diburu dalam ingatan ihwal bom juga teror tak berperikemanusiaan yang seringkali disebut pasukan kesayanganmu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah. Apakah benar rupa jihad sedemikian menyeramkan ? Apakah benar segala bentuk jihad adalah makar terhadap negara ? Tolong pak, jernihkan pikiran bapak. Jangan pernah ada pikiran-pikiran kotor apalagi picik mempengaruhi bapak. Sebab, aku tahu. Jihad bukanlah teror tanpa arti. Jihad bukanlah sekedar peperangan juga bukan sekedar melawan kebatilan di medan peperangan. Jihad adalah sebentuk pembebasan atas apa-apa yang mengekang juga membelit bangsa ini. Seperti dalam satu kalimat menakjubkan dan menggetarkan di ujung Piagam Jakarta yang terkhianati, lalu berubah nama menjadi Undang-Undang Dasar 1945. Ya, pada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kalimat itu adalah bentuk jihad sederhana kami. Kami masih berjuang untuk mencerdaskan bangsa ini. Membuat seluruh rakyat mengerti betapa thalabul ilmi adalah sebagian kecil dari jihad itu. Dan kami tengah berusaha mewujudkan jalan itu. Sebab, mustahil rasanya kita membincang soal peradaban juga kemajuan bangsa, bila pada saat bersamaan kita masih sibuk membincangkan soal gaji, sertifikasi, juga remunerasi tanpa tepi. Sebab ini bukan soal dana belaka. Ini soal bagaimana mengajarkan adab juga ilmu bersamaan. Soal tentang seberapa panjang jalan ikhlas mewujudkan peradaban utama dalam bangun ilmu yang tak boleh selesai begitu saja.

Bapak, maafkan bila kedatangan surat ini belepotan. Maafkan pula bila kata-kata yang kususun ini lebih mirip syair tinimbang surat indah untukmu. Aku masih terbata-bata mengeja setiap lurus bengkok alif ba ta cinta untukmu. Maafkan bila apa yang kututurkan kepadamu masih demikian dangkal tinimbang aksara-aksara serta taujih mereka yang kedalaman ilmunya sudah teruji. Aku hanya tengah dilanda rindu. Rindu menyaksikan Islam dan Indonesia tak lagi dipertentangkan. Rindu untuk memaknai bhineka tunggal ika tanpa ada pandangan nyinyir dari siapapun. Rindu untuk tetap berdiri tegak di belakangnmu. Mencoba untuk sesekali menafsir lalu menjenguk doa-doa panjang yang dirapalkan ketika baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur tetap kita rindu bersama dan mewujud indah pada setiap detak perjuangan yang tak pernah usai menggenapkan adil, makmur, damai, tenteram juga sejahtera pada setiap kepal ingatan kita nantinya.

Pak, tengoklah beribu anak bangsa yang berdiri tegak di empat penjuru bumi. Mereka yang khusyuk belajar, mengeja cita, juga berguru kepada bangsa dan negeri yang kadangkala kita anggap sebagai musuh dalam selimut. Pandang wajah mereka yang merindu pulang untuk memperjuangkan juga memberikan kado terindah untuk bangsanya yang seringkali dilanda pancaroba ini. Mereka yang siap berjuang memberikan apa-apa yang telah mereka dapat selama menimba dalamnya sumur ilmu pengetahuan untuk mewujudkan apa yang selama ini Indonesia cita-citakan. Mereka ingin kembali, pak. Membangun bangsa dengan jerih ilmu pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Mereka ada untuk kembali menjadi alasan-alasan menakjubkan dimana ruh keberadaban tetap mereka bangun meski jauh di tanah rantau. Lalu, ketika gejolak demi gejolak itu datang menghantam. Mereka tetap mengeja dalam khusyuk belajar mereka. Menebak lalu mengajak untuk tetap berpikir jernih. Memandang jauh ke depan ketika maslahat dan manfaat menjadi alasan mereka datang lalu membangun bangsa dengan jalan mereka sendiri.

Bapak, bila hari ini paham kebangsaan masih riuh diperbincangkan bahkan diperdebatkan. Kami datang bukan untuk meributkan hal-hal remeh temeh itu. Kami datang sebagai manusia Indonesia yang ingin mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Izinkan kami bergerak dengan jalan kami sendiri. Mewujudkan segala cita para bapak bangsa yang lebih dulu memperjuangkan apa yang purna di bilik tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima. Cita sederhana mereka yang kini bilik kata-katanya kita hina bahkan tak jarang kita jadikan dalih sebagai awal perlawanan tentang mewujudkan bangsa. Ya, tengoklah lima sila dalam Pancasila yang kerap dijadikan alat pergunjingan. Juga alat untuk sama-sama mendendam juga membenci meski pada sekali waktu, kami pernah berhadapan dengan orang-orang semisal itu. Kami coba memahami makna adil, adab, musyawarah, wakil juga kata-kata lain yang terkandung di dalamnya. Kami coba memahami dan mengejanya dengan ilmu dangkal yang kami miliki. Tolong pak, bila kelima sila itu tidak bisa menawarkan perubahan. Biarkan kami mencari cara untuk merubah hakikat perjuangan bangsa ini. Menjeda lalu menitip pengharapan tentang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang kami idamkan. Kami tak ingin menyaksikan ada perpecahan di tubuh renta ibu pertiwi. Kami tak ingin berdebat panjang tentang nilai-nilai dasar perjuangan. Kami ingin tetap berbuat nyata, melangkah lalu melapangkan apa-apa yang kami anggap itu benar dan tidak melanggar aturan syari’at. Kami ingin mewujudkan cita Indonesia sebagai negeri yang aman, damai, tenteram, makmur, tertib, juga sejahtera seperti terabadikan dalam doa-doa panjang kami tentang negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Bapak, tentang aksi-aksi itu. Kami mohon bapak untuk bisa bertindak tegas. Tindak siapapun yang menista kebenaran Islam. Tindak mereka yang kemudian berusaha memecah belah kerukunan bangsa. Tak perlu ada nyinyir apalagi kata-kata senewen ketika beragam parade dilangsungkan semenjak aksi di bilangan empat purnama ke sebelas itu. Biarkan kami menyaksikan bahwa bhinneka tunggal ika bukan slogan haram yang tak boleh diwujudkan dalam bentang perjalanan sejarah bangsa ini. Sebab, bangsa ini punya banyak jalan untuk mewujud menjadi satu. Tengok saja ke sekeliling bapak. Ketika bapak mengundang para ulama lintas ormas, para masyaikh dari beragam pesantren untuk duduk bersama, beruluk salam serta mencari solusi tentang persoalan bangsa yang demikian mencekam adanya. Kami paham, pasti ada suara-suara nyinyir yang menganggap surat ini ditulis atas dasar kepentingan golongan atau apapun itu. Maka, kami tulis surat ini bersebab cinta yang tumbuh dari dalam dada kami.  Sebab yang kami rindu hanyalah satu, mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Itu saja pak !***

Ciparay, 22 November 2016

dari seseorang yang belepotan

saat membedakan antara sajak dan surat

juga dari seseorang yang lemah tanpa daya

tak punya apa-apa selain huruf tanpa makna

untuk dilayangkan kepadamu

 

Aldy Istanzia Wiguna

Namaku Wiji Thukul

Kata bapakku, aku adalah perlawanan yang tak pernah mengenal henti. Melawan keberjarakan dimana tualang juga sajak-sajak riuh itu tetap berbisik melintasi batas. Menerabas zaman ketika kaidah kata-kata hanya peluru yang siap kulesapkan bila waktunya tiba. Pengganti raga yang pergi entah diburu siapa. Melawan beberapa kabar dimana isyarat-isyarat tanpa benda menjadi halaman yang tak berujung mengisyaratkan sajak-sajakmu tetap tumbuh menjadi bunga perlawanan.

Kata ibuku, aku adalah nyanyian perang yang masih rajin didendangkan. Melesap lewat lembut angin dan halus udara ketika kata-kata kuubah senjata untuk memburu banyak tiran. Melawan juga memberontak kepada nafas-nafas tak biasa yang dulu berebut ingin memburuku dalam senyap. Membiarkannya tetap menjadi kelindan semenjak petala langit berubah menjadi gemuruh tanpa henti. Lalu debur ombak di lautan lepas datang dan menjelma badai seperti melepas kepergianku pada satu pagi di ujung tahun penuh kenangan juga catatan-catatan luka dimana kepahitan adalah dosa tanpa kabar.

Kata kakakku, aku adalah suara-suara asing yang masih ditakuti lelaki-lelaki kokoh berjas safari. Yang cerutunya sama besar dengan jempol tangan bapak. Mereka yang dulu menganggapku anak bengal tetiba saja datang menghadap untuk basa-basi berupaya meyakinkan bahwa hikayat penghabisanku akan ditelusuri sampai akar-akarnya. Tapi, semuanya tetap saja bergeming. Tak ada lagi suara nyaring di kamar itu. Tak ada lagi lengking suara khas yang menjadi kawan paling karib para buruh berdemo menuntut upah yang tak seberapa tinimbang peluh keringat berjam-jam di pabrik tanpa ada yang sepadan.

Kata adikku, aku adalah bunga paling indah di taman. Bunga yang dulu pernah dipetik lalu dirobek-robek dengan begitu nista. Sementara bunyi peluru, bedil, kelewang bahkan pedang beradu kekuatan dengan beribu sepatu lars yang memburu orang-orang sepertiku. Mereka seperti bernyali bilamana berhadapan dengan orang lemah macam aku. Sementara memburu para koruptor kelas kakap, penjahat paling jahat di abad ini saja mereka mana berani. Tengok saja, ketika seorang penista dianggap dewa, diselamatkan dengan daya dan upaya. Sementara aku, lelaki berotak kosong dengan sajak-sajak riuh yang tak pernah selesai menyuarakan keadilan dilibasnya pada satu episode menyakitkan. Ya, tengoklah huru hara di tahun 1998 yang katanya terpaksa membawaku pergi entah kemana. Sampai-sampai aku lupa jalan pulang menuju rumah.

Kata istriku, aku adalah suami paling baik. Seorang romantis yang pernah memberinya beribu sajak cinta penanda api perlawanan baru saja dimulai. Tak pernah merutukki nasib sebagai buruh yang dibayar uang recehan atau pendemo yang kerapkali keluar masuk jeruji besi atau berhadapan dengan rutukkan peluru juga bedil tentara tanpa nama. Ia kerap rindu padaku. Rindu pada getar suaraku ketika membacakan sajak-sajak perlawanan itu. Rindu pada kertas lusuh di kamar yang tetiba menyemburatkan banyak kata dalam iring-iringan doa melepas kepergianku yang tanpa pesan. Tahukah kamu, bahwa aku direnggut paksa untuk pergi. Bersebab kalimat-kalimat sunyi yang datang dan tak pernah membawaku kembali. Tapi aku ada untuk tetap mengirimimu sajak juga surat-surat cinta tanpa jeda sebab aku tak pernah kehabisan akal untuk tetap mencintaimu dan pulang menuju rumah tempat aku pertama kali melahirkan kata, mengubahnya menjadi sajak, lalu menjadikannya senjata untuk melawan tiran yang ketar-ketir ketakutan menyaksikan keberadaanku membacakan saja di bawah peluh juga keringat buruh yang tak pernah mereka bayar dengan keadilan yang seadil-adilnya sampai hukum untuk mereka pun doyong berderak-derak.

Kata anakku, aku adalah bapak yang selalu mereka rindu untuk lekas pulang. Yang dirindu untuk membaca sajak-sajak tanpa nama ketika pada satu waktu mereka menyaksikan para bapak yang dicium tangan juga pipi kanan kirinya selepas mengantar dan menjemput anak lelaki dan perempuan mereka ke sekolah. Tapi hari ini, anak-anakku justru memilih menjadi lain. Mereka tetap membaca dan menuliskan sajak-sajak perlawanan menuntut ayah mereka lekas pulang. Ayah yang kerapkali mereka rindu datang dan menyederhanakan pagi lewat obrolan paling ringkas atau canda ria tentang situasi negeri yang beriak seperti air di pagi buta. Kadang menjejalkan dingin juga mengupayakan alasan-lasan lain yang bertumbuh bersamamu.

Kataku, aku hanya ingin menjadi peluru. Memburu lesap doa-doa dimana ketidakadilan yang mereka cipta kelak berbalik arah kepada mereka. Aku ingin menjadi senjata untuk melawan para pemburu dan penjahat ketidakadilan. Aku ingin tetap menjadi duka yang kelak melepaskan juga meriwayatkan awal dan akhir perjalanan. Mencatat lalu mengabadikan jarak semenjak namaku karib disebut dalam doa-doa panjang selepas perayaan atau peringatan di hari kelahiran juga kepergian. Engkau tahu, mereka merindu diriku untuk cepat-cepat pulang. Tapi, mereka tetap menyalakan dan membacakan namaku. Membacakan juga menuliskan namaku pada ribuan kertas yang katanya bisa melebihi suara-suara keras sepatu lars. Kau tahu, namaku Wiji Thukul. Seorang sederhana yang biasa melawan mereka sebelum akhirnya peluruku habis saat melawan mereka yang datang membaca serangkaian keributan jelang kepergianku di tengah prahara di bilangan kelima almanak kita yang purnama di ujung sembilan puluh delapan.

Ingat, namaku Wiji Thukul. Dan aku hanya ingin menjadi peluru yang bisa membunuh beribu orang juga sepatu lars mereka yang berbunyi keras di jalanan kota semenjak sembilan puluh delapan. Tepatnya semenjak delapan belas tahun silam.***

Pameungpeuk, 2016

wiji-thukul

 

Antara Pesat, A. Hassan dan Endang Abdurrahman

yasinan

Teman, kita baru saja melangkah meriwayatkan sebuah perjalanan ketika di usia sembilan puluh purnama ia tegak dan berdiri mewarnai umat. Menggerakkan tanda-tanda dimana zaman akan terus dan terus berubah. Berputar mengitari mesin waktu, lalu membayangkan badai ujian dan cobaan yang demikian berat kita rasakan kelak. Kau tahu, tak selamanya kesenangan menjadi nikmat dan tak selamanya pula derita menjadi azab. Adakalanya kita merasa bahwa pada satu masa kita akan tetap ada dan berbalik mengeja kesenyapan-kesenyapan baru yang kini riuh terdengar di luar sana.

Teman, ketika hakikat perjalanan mempertemukan kita. Merumuskan perjalanan-perjalanan lengang yang mulai dipaksa untuk segera membuka diri. Aku merasa, kita perlu saling mengoreksi, memeriksa lalu membaca tanda-tanda ketika keterbukaan lebih karib dengan puja dan puji dunia. Sementara kita pernah berkhidmat dan berguru kepada mereka yang lapang dan ikhlas hatinya. Kepada mereka yang kesabarannya dalam berdakwah tetap bersitahan mengajak dan mengajarkan setiap lekuk kebaikan pada segelintir manusia untuk nantinya berubah dan berkembang menjadi keberkahan tanpa tepi.

Teman, sungguh aku belajar banyak dari perjalanan singkat ini. Belajar tentang bagaimana para ulama kita mulai membincang persoalan budaya. Sibuk bersilang sengketa ketika urusan-urusan bid’ah, khurafat dan takhayul tak lagi diperbincangkan dari sudut peribadatan tapi juga kebudayaan sehari-hari kita sebagai anak manusia. Ketika ketegasan masih membutuhkan penjelasan. Ketika silang sengketa tak kita jadikan alat untuk menarik diri dari gemilang dan hiruk pikuknya zaman yang semakin kuat arus ujian dan cobaannya mengajak kita pada serpihan-serpihan api neraka yang dikira surga.

Teman,  di sini kita belajar untuk berikhtiar memberikan yang terbaik. Mencoba menyatukan dua kutub berbeda seperti yang dilakukan guru kita A. Latief Mukhtar. Ketika menyaksikan sebuah foto sederhana milik kawan kita nun jauh di sana yang hadir melibatkan dirinya dalam proses yasinan. Sungguh, teduh nian mata ini memandang. Ketika persoalan-persoalan seperti ini tak lagi dijadikan perdebatan. Ketika dua arah sengketa yang dulu sempat memuncak antara gurunda KH. Endang Abdurrahman dan KH. Abdul Qadir Hassan. Aku membaca, pada hari ini nyatanya kita merindu untuk bersatu. Menjadi singa seperti A. Hassan, namun juga menjadi domba yang lembut seperti KH. Endang Abdurrahman. Sebab, aku tahu, adakalanya apa yang dulu tak pernah kita bahas bisa jadi alat pemersatu diantara kita. Dan tolong jangan dirusak, biarkanlah kita mengenal satu sama lain. Mengakrabi apa-apa yang dulu pernah terjadi antara kita, lalu mencoba merumuskan semisal catatan sederhana tentang bagaimana mengembalikan generasi-generasi penjaga harapan untuk mengikuti jejak guru mereka tersayang.

Teman, tentu kita telah belajar banyak dari orang-orang di sekelilingmu. Membaca lebih banyak buku juga kitab tentang budaya yang seringkali dipersengketakan. Atau barangkali kita telah khatam buku Kebudayaan Islam yang ditulis gurunda Mohammad Natsir, murid kinasih Tuan Hassan. Aku berharap, bilamana benar kita telah khatam itu semua. Mari kita gerakkan setiap pena yang terangkat. Mari kita ajarkan dan terangkan kepada mereka apa yang pernah diujarkan Amiril Mukminin Umar bin Khattab tentang pelajaran sastra yang mampu membuat anak-anak kita menjadi para pemberani kelak di kemudian hari. Tak perlu kita menjawab kekeliruan orang-orang yang tak pernah kita kenal. Bilamana kita belum punya dasar untuk membantahnya. Satu yang perlu kita lakukan agar ikhtiar sederhana ini benar-benar manfaat juga maslahat bagi umat adalah belajar menjadi diri kita sendiri. Tak perlu menjadi bebayang hari atau siapa-siapa ketika akhirnya kita merindu pulang pada ayat pertama yang diturunkan Allah kepada baginda Nabi, iqra !

Teman, ini hanya catatan sederhanaku. Selepas berjalan mengeja kebersamaan. Merawat ingatan lewat kajian-kajian penuh makna. Atau satu catatan singkat ketika penat dan lelah merevisi bahan-bahan kajian. Maafkan bila kedatangan surat ini tidak tepat. Sebab aku tahu, kita hidup di dunia hanya sebagai orang asing yang tak boleh cepat puas apalagi merasa menjadi paling di atas segalanya. Titik !

Ciparay, 28 Syawal 1437 H

Ditulis selepas menyaksikan foto seorang kawan berbeda pandangan ikut dalam yasinan. Juga sebagai bentuk istirah sederhana ketika catatan ke 59 milik saya telah selesai dan masih penuh bolong di sana-sini juga perlu diperbaiki ketika banyak fragmen yang saya tulis disalahartikan.

Sebelum Pulang

deep-blue

Rusuk Langit

: K.H. M. Faizi

Di atas langit, aku pernah merekam rindu. Melepas isyarat lewat gerimis yang berdetak lalu bermain-main sebentar ketika bunyi-bunyi tambur ditabuh. Limbur dalam doa-doa panjang dimana isyarat dan tualang menjadi semacam tanda menggemakan langit. Aku pulang pada bacaan-bacaan sederhana. Lewat kitab yang biasa kita daras, lalu merekam setiap ilalang pada sajak-sajak menyejukkan ketika istirah menjadi semacam bunyi yang menandakan kita belum selesai. Menafsir lalu memaknai hidup yang sementara di atas bukit Lancaran tempat kita biasa merekam makna. Menulis bait-bait sajak ketika kitab-kitab itu menghadirkan surga sebelum surga. Pada rusuk langit, aku pernah menitipkan cinta juga doa. Melepasnya menjadi semacam penanda tentang perkabungan malam yang selalu hangat ketika sajak-sajak para pembelajar tetap dibaca lewat setiap penjuru mata angin. Dan aku melihatmu kukuh di atas bukit, merapalkan doa-doa dalam sajakmu yang seolah meruntuhkan langit hari itu.

2016