Jalan Mengajak Pulang

shot

Singgahlah di rumah tempat kita dulu mengenang apa yang mesti dikenang. Berjalan lalu membiarkan debu menjadi semacam tinggalan yang membuat kata-kata tetap berdetak dalam jiwa. Menyambung juga membariskan kebersamaan ketika hentakan sepatu lars mengajak jiwa-jiwa tenang itu berpulang dengan caranya masing-masing. Mengutuk hari yang katamu seumpama rembulan paling perak dimana kita dan sambung menyambung kebermaknaan menjadi alasan tentang kapan bahagia bisa diterakan. Atau ada yang melingkar membersamaimu. Menghubungkan hari-hari panjang ketika jalan-jalan sunyi itu tetap mengajakmu pulang untuk tidak larut dalam gegap gempita keriuhan yang semakin sibuk.

2017

Pulang

lilin

Kalau kau harus kalah. Maka, kalahlah dengan gagah dan indah

-Putu Wijaya-

Pada akhirnya, kita akan pulang setelah melewati banyak rintangan, menyudahi tepuk tangan riuh lalu lakon-lakon semerbak yang mengekalkan banyak nama. Pulang untuk mengalah meski gagah dan indah menjadi semacam isyarat tentang keberangkatan yang saling mengekalkan. Merawat tiap makna dimana bahasa-bahasa kebaikan kini luruh dalam doa-doa panjang melepas setiap tanda kekalahan.

Bila pada akhirnya aku harus mengalah. Aku ingin benar-benar pulang menuju tempat dimana awal dan akhir lebih sering tak terbayangkan. Dipandu lewat ingatan sederhana tentang nasehat-nasehat panjang yang bermuara dalam doa. Saling mengutuhkan tanda lalu mengakrabi bayang-bayang rasa dan hikayat panjang kekalahan dimana kita memang pernah dikalahkan pada sekali urutan kabar bahagia.

Pada akhirnya, kita akan pulang meski jalan di depan sama seperti jalan yang pernah kita lewati. Ada kelok, kanan-kiri, maju-mundur, juga depan-belakang yang utuh menggambarkan bagaimana awal kita melangkah dulu. Menepi dalam hingar bingar yang terkadang membosankan. Atau tetap sendiri pada sebab-sebab sederhana tentang kapan kita mesti mengalah dan menyerah kepada perjalanan waktu.

Dan bila akhirnya kita mesti pulang. Pulanglah dengan gagah dan indah seperti awal keberangkatan kita dulu. Menyalalah, sebab terang ada untuk menjadi petunjuk bagi semesta. Jadilah nyala meski itu hanya sebatas temaram.

2017

Nasehat

34

Ibarat batu sandungan, ia ada untuk mengajari kita kehati-hatian. Sebuah isyarat tentang lapang perjalanan yang selalu menghadirkan warna-warni keterangannya. Agar tetap membuat kita sadar bahwa pada hakikatnya perjuangan akan tetap menjadi perjuangan meski medan ujian yang dihadapi beda.

Ibarat batu karang, ia ada menjadi ombak yang menghantam. Tak peduli atas bawah, depan belakang atau luar dalam diri kita. Semua membersamai, melengkapi. Ia ada seperti itu untuk tetap mengingatkan bahwa pada akhirnya ketersambungan itu akan tetap menguatkan bukan melemahkan meski pada titik-titik tertentu kita merasa tidak akan pernah mudah untuk memahaminya.

Ibarat bangunan, ia ada untuk merobohkan segalanya. Tugas kita hanya menjaga agar pondaasinya tidak pernah roboh atau keropos. Menjejalkan beberapa nasihat meski terkadang ada sulur-sulur lain yang mencoba untuk merobohkannya dan membuat kita menjadi tidak ada apa-apanya tinimbang rasa sabar dan syukur yang belum seberapa.

Ibarat tanah lapang, ia ada untuk melapangkan bukan untuk menyempitkan. Meski terkadang hadirnya selalu utuh menggambar beragam kenangan entah pahit manisnya perjalanan. Entah bebungaan atau hal-hal lain yang kerapkali datang lalu menjelma duri di sepanjang perjalanan. Tentu, ketika ia menjadi duri, ia tetaplah pengingat bahwa pada akhirnya kita tidak pernah sendiri di sependek jalan ini.

2017

Lelakumu, Ayah

kaki

Aku tulis surat ini untuk menandai hening suaramu. Tegak pendirianmu juga jelas langkahmu. Saling merengkuh lalu kita pernah terdiam sembari sesekali membayangkan betapa pendeknya jarak antara hidup dengan apa yang kita perjuangkan. Sembunyi-sembunyi lalu sesekali kita tertawa mengenang tiap kisah itu. Membandingkan banyak lelaku yang tercerabut dari kisah panjang kita kemarin petang. Dan di sini, pada setiap bilah pengembaraan. Aku masih mengenang hikayat terbaikmu. Hikayat yang tak pernah berkhianat ketika jalan juga cara kerjamu tetap menyambung alasan-alasan terbaik untuk pulang menuju tempat paling indah di palung hatimu ketika sabar menjadi doa tanpa jeda.

Ayah, aku bahagia bisa menyaksikan semua hikayat panjang itu. Hikayat tentang cinta yang tak pernah berkurang. Hikayat tentang surga yang kujumpai demikian nyata di telapak kakimu, meski kutahu dalam sabda sang baginda namamu hanya disebutkan satu kali sementara ibu sampai tiga kali. Tapi aku tahu, baktiku padamu tak boleh berkurang sebab jalan menuju surga juga ada padamu. Pada lelah harimu, pada peluh keringatmu juga panjang pengorbananmu. Lelah yang tak pernah bisa kutebus juga kubalas meski samudera tak pernah lelah menjadi tinta untuk menuliskan namamu. Lelah yang kelak akan menjadi saksi bahwa setiap perjuanganmu tetap berpeluk mesra dengan ridha-Nya.

Ayah, aku tahu jalan panjang itu saling sambung menyambung. Mengekalkan derap langkahmu yang seringkali ingin segera kuburu. Ingin kucium keriput tanganmu yang darinyalah mengalir deras cinta juga kasih tanpa jeda. Yang darinyalah asas-asas kerja keras, pengorbanan juga ikhtiar tanpa jeda bisa dipahamkan pada kami anak-anakmu. Alir air mata yang tiba-tiba mengendap ketika akhirnya setiap daya ikhtiar itu berjumpa manis di ujung jalan. Tentu, aku seringkali bingung mengeja semuanya. Sebab, seperti katamu jadilah anak-anak, jangan jadi orang dewasa.

Ayah, bila perjalanan diumpamakan sependek adzan dan iqamat. Izinkan aku pulang untuk memburu setiap peluk hangatmu juga kasih dan cintamu yang tak pernah berjeda. Meski pernah sekali waktu aku hendak mengkhianati setiap jalan kebaikan yang kau retas. Ayah, tahukah engkau betapa aku cemburu pada jalan panjang perjuanganmu.

2017

Jalan Sulap

perahu-kertas

Akhi, selalu tak mudah bilamana kita melewati jalan sulap yang disesakki kejutan ini. Kejutan tak berhingga yang membuat kita selalu sadar tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang manusia. Jalan yang dulu begitu mantap ingin kita lalui bersama sebab di depan sana katamu ada yang mesti diperbaiki. Di jalan ini, kita akan menguji kebersamaan kita, menguji seberapa kuat dakwah meneguhkan hati kita, memantapkan apa saja yang kemudian membuat keberangkatan menjadi soal sederhana ketika akhirnya kita tetap memutuskan pulang untuk mengurus hajat banyak orang yang ternyata lebih membutuhkan kita di sini. Menjadi seorang baru dengan usungan baru seraya berharap bisa menjadi seperti apa yang disabdakan baginda Nabi dalam haditsnya sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat bagi sesamanya. Mungkin benar, akan ada saatnya kita futur, ada saatnya kita merasa lelah bahkan letih melalui jalan sulap yang penuh kejutan ini. Tapi percayalah, Ia takkan mungkin menelantarkan kita begitu saja. Ia akan tetap memeluk bahkan menghadirkan beribu kawan baru di jalan sulap penuh kejutan ini.

Akhi, bolehkah kita berbeda jalan di setapak ingatan penuh kejutan ini ? Bilamana boleh, aku ingin menjadi catatan lain yang ikut menyambungkan benang-benang sulamanmu menjadi baju yang kelak menghangatkan tubuh juga semangat perjuangan ini. Tapi sayang, seringkali kita merasa terlena dengan semua fasilitas itu. Seringkali kita merasa menjadi catatan lain di seberang sejarah ketika banyak pelakonnya memilih menjadi pemeran utama bukan sekedar figuran belaka. Mereka yang siap dengan segalanya mulai dari ilmu, adab, harta juga strategi musuh yang seringkali berubah-ubah seperti topi sulap yang pernah membuat mata kita silap. Tentu, engkau ingat ketika derap langkah kaki itu menjemput panggilan membela haq di awal November dan pertengahan Desember. Ketika semuanya memutuskan menjadi pelakon utama, menjadi pembela di barisan terdepan. Mereka yang mengulang sejarah besar Tentara Kandjeng Nabi Muhammad yang dibentuk guru kita Hadji Oemar Said Tjokroaminoto bersebab polemik berkepanjangan di majalah Djawi Hiswara yang demikian melecehkan baginda Nabi bahkan sampai menista Islam. Yang tampil di hari itu adalah wajah-wajah dengan bara semangat begitu nyata. Mereka yang didaulat menjadi penjaga utama atas marwah Islam dan kaum muslimin. Derap langkah mereka begitu menggetarkan jiwa. Hingga pada satu waktu kita pernah bertanya, mereka-kah generasi pilihan itu ? Mereka-kah generasi yang dijanjikan Al-Maidah ayat 54 itu ? Lalu bagaimana dengan kita yang tidak ikut serta membersamainya ?

Akhi, selalu ada kalimat-kalimat nyinyir yang menyertai. Kalimat yang membuat kita pada akhirnya selalu merasa tersingkir untuk bisa menjadi yang terbaik. Menjadi pelakon utama juga pembela utama kepentingan Islam juga kaum Muslimin. Kata mereka yang turut serta membersamai perjuangan itu kepada kita justru terkadang demikian menyakitkan. Ketika kita yang tak bisa hadir juga membersamai perjuangan panjang dan menakjubkan itu. Kita dianggap sebagai pecundang. Kita dianggap sebagai orang-orang yang acuh terhadap hajat Islam juga kaum Muslimin. Kita seperti tidak peduli terhadap ucapan si bebal yang demikian menyakiti juga menghina serta menista marwah Islam. Sementara kita yang tak menghadiri juga menangis dalam sudut-sudut doa. Kita menangis ketika tugas membenahi diri, membenahi keluarga juga membenahi umat di lingkungan sekitar sama beratnya dengan langkah kaki para pejuang di hari itu. Tugas yang jujur demikian sulitnya ketika kita terpaksa berdiri tegak di balik papan tulis dan kapur sembari menggguratkan alif ba ta cinta kehidupan. Mendidik mereka untuk mempersiapkan generasi terbaik juga pilihan sebagaimana termaktub demikian indah pada salah satu ayat dalam surat cinta terindah-Nya yakni Al-Maidah ayat 54. Dan kita, tengah menyambung janji itu sembari melunasinya dengan sahaja.

Akhi, maafkan bilamana jalan sulap ini demikian terjal tempuhannya. Maafkan pula bila banyak sejarah yang tak mungkin diabaikan. Maafkan bila di ujung jalan ini tidak ada agitasi-agitasi menggelegar seperti orang-orang kebanyakan. Sebab, ini jalanku untuk mewujudkan generasi penjaga harapan itu. Jalan sulap yang kadang tak bisa dimengerti kebanyakan orang. Jalan yang memang demikian banyk menguras batin juga perasaan kita untuk sama-sama melangkah ketika ada sebagian dari kita menganggapnya sebagai suatu ketersia-siaan. Sudah terlalu banyak hikayat tentang mereka yang tetap tegak mengabdi dan berkhidmat di jalan sulap yang panjang dan berat tempuhannya. Jalan yang menjadi pembeda antara kita dan mereka. Jalan yang menegaskan kepada siapa saja bahwa pada akhirnya nanti kita pun berhak menjadi pelakon utama juga orang-orang yang berbaris di garda terdepan untuk membela marwah Islam juga kaum muslimin.

Akhi, di jalan sulap ini kita kembali ikat ukhuwwah dengan satu simpul sederhana. Simpul untuk menyatukan bukan untuk saling membedakan. Simpul yang kelak menerangkan bahwa jalan ini tak teramat sulit tempuhannya. Panjang, melelahkan, meletihkan dan sederet perihal lain yang kerap membuat kita sesekali diserang futur. Tapi, bilamana serangan itu datang, tengoklah gemilang sejarah peradaban yang disesakki kisah-kisah menakjubkan para pengemban. Mereka yang datang dan pergi lalu menolak menyerah kalah kepada tiran yang kapan saja bisa membuat mereka kehilangan nyawa. Tapi, lagi-lagi itu tak seberapa. Tengoklah keberanian seorang Sayyid Quthb yang dengan gagah berani menolak segala bujuk rayu dunia untuk sekedar menandatangani permohonan maaf agar tiran yang menghukumnya bisa membebaskan dirinya. Namun, dengan bara semangat di dada. Dengan keberanian dan ketegasan yang tak bisa diperjualbelikan ia tetap kukuh dan tegak menyaksikan bahwa Allah Sang Maha Segalanya. Atau hikayat Imam Syafi’i yang dipaksa berjalan terantai dari kota Shan’a menuju Baghdad hanya karena ucap dan tindaknya yang dengan gagah berani berlawanan dengan tiran yang semakin mengkhawatirkan tindak-tanduknya.

Akhi, bila dakwah adalah cinta. Maka, ia akan meminta segalanya dari dirimu. Sampai pikiranmu, tenagamu, tidurmu hingga engkau terbangun kembali semua yang ada di benakmu justru tentang mereka, tentang umat yang kau cintai ini. Tentang mereka yang masih saja bengkok mengeja alif ba ta kehidupan. Tentang mereka yang masih perlu belajar tentang bagaimana memahami adab-adab sederhana untuk menegakkan setiap deretan kalimat-Nya agar kelak tidak ada satu kesia-siaan pun dari-Nya ketika diri memutuskan berkhidmat untuk menjemput dan berharap ridha-Nya.

Akhi, aku tahu inilah jalan sulap yang telah kita tempuh itu. Jalan yang tidak akan pernah bisa mudah meski mantra-mantra tentangnya kerap kita baca dari buku-buku anggitan para ulama terkemuka. Jalan yang akan terus mengajarkan kepada kita semua tentang bagaimana mengabadikan hidup juga mengabdikannya dalam doa-doa panjang juga adab-adab sederhan demi terwujudnya hidup yang baik di dunia dan akhirat kelak. Jalan yang kelak akan mengantarkan setiap jejak kebaikan berjumpa dengan cahaya maha cahaya yang selalu kita rindu bersama. Jalan yang tidak akan pernah usai kita lalui sampai tapak kaki ini berjumpa di surga-Nya kelak.

Akhi, ada saatnya punggung kita terpisah jauh melewati banyak hal di depan. Sementara seperti biasa engkau tinggalkan bayanganmu di sini. Menetap lalu mengendap menjadi penanda sederhana tentang temali perkawanan kita yang katamu akan tetap kita bawa sampai akhirnya Allah menyuruh kita pulang.***

Ciparay, 28 Februari 2017-02 Jumadil Akhir 1438 H

ditulis selepas mendengar petuah bijak KH. Endang Abdurrahman (alm)

Selamat Memeram Luka

pulang

Pada akhirnya, kita akan tetap membaca tanda, merekam asal, lalu pulang pada alasan-alasan tak biasa ketika akhirnya kata hanya menyisakan luka. Menjelaskan pada serangkaian bebayang dimana kata, kita dan muasal kebaikan selalu dibaca terbalik hingga rumus-rumus ketakberhinggaan menjadi kawan juga kebahagiaan tanpa amsal. Menguraikan beberapa tanda hingga ada yang mendaku duka menjadi amsal di sepanjang keberanian. Menyertakan beberapa kisah dimana luka hanya baris keterasingan yang tidak pernah luput mengajarkan bermilyar-milyar keterasingan. Tetap utuh membaca siapapun diri kita lalu saling mengabadikan sampai akhirnya kita berjumpa saat pecahnya luka yang diperam dalam balutan rasa. Menyentuh lalu membiarkan sisik melik ketiadaan menjemput namamu dalam barisan masa.

2017

Surat Untuk Ayah

pahlawan

Ayah, kudengar aksimu di hari itu. Hari dimana gemuruh dada banyak orang berdentam tak karuan. Aku ingat bagaimana bara semangat terus berkobar di dadamu saat menyaksikan kedzaliman yang tak lagi bisa disembunyikan mereka yang mengaku pemimpin. Aku menyksikan langkah tegapmu di hari itu. Hari dimana semua turun tangan, bahu membahu mewujudkan apa yang dijanjikan dalam doa-doa panjang kita. Ya, tentang doa baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri terbaik yang kelak akan terus diampuni Sang Penggenggam Kuasa. Lewat surat ini, aku ingin mengabarkan kepadamu tentang rasa bangga yang tak kunjung berkurang. Tentang kelebat sosok-sosok lain dimana pada separuh perjalanan kita sebagai bagian dari bangsa bernama Indonesia, kita pernah punya panutan tak berhingga. Tidak pernah kering apalagi kosong. Sebab keberanian selalu melahirkan keteladanan tiada akhir. Untuk ayah dan keringatnya yang menjadi saksi betapa tidak mudah perjuangan hidup. Aku haturkan beribu cinta tak berhingga untukmu. Ingin aku pulang menuju surga lain yang ternyata demikian jelas baik harfiah maupun maknawiah di kakimu, meski dalam sabda sang nabi engkau disebut hanya satu kali. Tapi aku percaya, jalanmu memperjuangkan semua ini telah membukakan satu pintu untukku kembali menimba ilmu surga darimu. Terima kasih ayah. Semoga kelak dari tangan lembutmu lahir generasi-generasi mumpuni yang kelak mengembalikan izzul Islam wal muslimin. Aamiin.

2017