Genealogi Literasi Ahmad Hassan

A-hassan-pendiri-Persis

Ahmad Hassan lahir di Singapura pada tahun 1887 dan wafat di Surabaya pada tanggal 10 November 1958. Sebagai seorang tokoh pembaharu, Ahmad Hassan mendapat didikan awal dari ayahnya yang bernama Sinna Vappu Maricar, seorang penulis yang cukup ahli dalam bidang agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ia diajarkan ayahnya mulai dari tata bahasa Tamil  dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Masa kecil Ahmad Hassan dilewati di Singapura. Pendidikannya bermula di sekolah dasar, tetapi Ahmad Hassan tidak sempat menyelesaikannya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu dan menyelesaikannya hingga kelas empat dan belajar di sekolah dasar pemerintah Ingris sampai tingkat yang sama, sambil belajar bahasa Tamil dari ayahnya. Di sekolah Melayu itulah, Ahmad Hassan belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil dan Inggris. Pada usia tujuh tahun, sebagaimana anak-anak pada umumnya, ia belajar Al-Qur’an dan memperdalam agama Islam.

Pada usia 12 tahun, A. Hassan mulai bekerja. Sembari mencari nafkah, ia menyempatkan diri belajar privat dan berusaha menguasai bahasa Arab sebagai kunci untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam. Dia belajar di toko milik iparnya, Sulaiman sambil terus belajar mengeja pada Muhammad Thaib, seorang guru yang terkenal di Minto Road. Pelajaran yang diterimanya saat itu sama saja dengan apa yang diterima anak-anak lain seperti tata cara shalat, wudhu, shaum dan lain-lain.

Selain kepada Muhammad Thaib, tercatat beberapa nama sempat menjadi gurunya seperti Abdul Lathif, sang paman juga Syekh Hassan dan Syeikh Ibrahim, seorang ulama yang berasal dari India. Beliau mempelajari dan memperdalam Islam dari beberapa guru tersebut sampai kira-kira tahun 1910, menjelang ia berusia 23 tahun. Beberapa pekerjaan pernah digelutinya seperti menjadi agen es batu, tukang vulkanisir mobil sampai menjadi penulis tidak tetap di beberapa majalah hingga diangkat menjadi salah satu anggota redaksi di surat kabar Utusan Melayu.

Menjadi Penulis di Utusan Melayu

Di sekitar tahun 1912-1913, ia menjadi salah satu anggota redaksi surat kabar Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore Press di bawah pimpinan Inche Hamid dan Sa’dullah Khan. Di surat kabar ini, untuk pertama kalinya Ahmad Hassan menulis artikel tentang Islam yang bersifat nasihat, anjuran berbuat baik dan meninggalkan kejahatan dalam bentuk syair. Masalah akidah dan ibadah juga tidak luput dari sorotannya. Terkadang tulisannya berupa kritikan terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan, dalam salah satu tulisannya, ia pernah mengecam qadli yang dalam memeriksa suatu perkara mengumpulkan tempat duduk pria dan wanita dalam satu ruangan.

Menarik bila disimak, perjalanan menulis Ahmad Hassan dalam koran atau surat kabar Utusan Melayu ini. Lazimnya, sebuah tulisan dalam koran yang biasanya berisi artikel keagamaan. Ahmad Hassan justru menuliskannya dalam bentuk syair atau puisi lama yang berbentuk bait sebanyak empat baris dalam satu baitnya. Tulisan-tulisan Ahmad Hassan yang berbentuk syair ini ternyata banyak diminati hingga pada satu kesempatan redaktur surat kabar tersebut memberinya rubrik tanya-jawab seputar keagamaan sebelum nantinya berpindah ke dalam majalah Pembela Islam yang dikelolanya kelak bersama murid-muridnya seperti Mohammad Natsir dan Isa Anshary ketika dirinya bergabung dengan Persis di tahun 1926.

Tradisi Literasi dan Intelektualitas A. Hassan

Pada tahun 1926, ketika Ahmad Hassan memutuskan untuk belajar tenun di Bandung dan mendirikan pabrik tenun di daerah Majalaya. Ia sempat belajar dan ikut pengajian dalam sebuah perkumpulan yang didirikan oleh dua saudagar dagang dari Palembang bernama Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus di tahun 1923. Nama dari perkumpulan itu adalah Persatuan Islam (Persis). Organisasi atau perkumpulan tersebut biasanya mengadakan kenduri atau pengajian-pengajian kecil yang diadakan di sebuah mesjid yang terletak di Jalan Pangeran Sumedang (kini Otto Iskandardinata). Mulanya, Ahmad Hassan tertarik dengan pembahasan-pembahasan yang dikaji dalam pengajian itu. Salah satu tema yang biasa dikaji dalam perkumpulan itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan bid’ah, khurafat, dan takhayul. Seiring waktu berjalan, Ahmad Hassan justru diminta untuk memberikan pengajaran atau corak berbeda dalam setiap pengajian dan kenduri yang diadakan sampai akhirnya ia didaku menjadi guru dari perkumpulan yang organisasi awalnya berjumlah 20 orang.

Pada masanya, organisasi Persatuan Islam dikenal galak dan tegas. Tercatat beberapa perdebatan sengit pernah digelar organisasi masa itu dengan Ahmad Hassan sebagai pembicaranya. Perdebatan-perdebatan itu tidak hanya terjadi di muka umum saja melainkan dalam surat-surat kabar yang dikelola Persatuan Islam. Salah satu perdebatan yang paling terkenal pada masa itu adalah perdebatan Persis dengan Ahmadiyah yang dilakukan di Batavia dan Bandung dengan lawan debat diantaranya Abu Bakar  Ayyub, Abdurrazak dan Rahmat Ali sebagai utusan Ahmadiyyah dari Qadiyan. Sedangkan perdebatan-perdebatannya yang melalui media massa antara lain dengan Prof. Schoumaker dan dengan golongan Kristen Seven Advent di majalah Pembela Islam.

Pribadi Ahmad Hassan yang literat ternyata turut ditularkan kepada beberapa muridnya seperti Isa Anshary, Mohammad Natsir dan Endang Abdurrahman. Ketiga muridnya ini biasa dilibatkan bilamana Ahmad Hassan hendak berdebat atau menulis satu dua artikel. Biasanya, bilamana ia hendak berdebat yang biasanya dilibatkan untuk turut serta menyeleksi kitab-kitab referensi yang akan digunakannya berdebat adalah Endang Abdurrahman. Sementara, Isa Anshary dan Mohammad Natsir mendapat tugas untuk menjadi editor atas tulisan-tulisan Ahmad Hassan yang hendak diterbitkan atau dipublikasikan di majalah-majalah yang dikelola Persatuan Islam saat itu semisal Pembela Islam, Aliran Islam dan Al-Lisan.

Selain itu, Ahmad Hassan juga terbiasa menerbitkan tulisan-tulisannya secara mandiri. Hal itu dilakukan dengan prinsip berdiri di atas kaki sendiri. Tercatat sampai akhir hayatnya Ahmad Hassan telah menulis sebanyak kurang lebih 83 judul buku yang terdiri dari persoalan-persoalan ibadah, akhlak, politik sampai buku-buku kesusastraan yang ditulis Ahmad Hassan dalam enam jilid diantaranya Syair yang ditulis sebanyak dua jilid dan Tertawa yang ditulis sebanyak empat jilid. Ini membuktikan bahwa ulama-ulama Persis pada masa itu termasuk ulama yang multi disiplin ilmu. Hal ini bisa dilihat dari beragamnya tulisan Ahmad Hassan juga murid-murid beliau semisal Mohammad Natsir dan Isa Anshary.

Bila ditelisik lebih jauh tentang aktivitas literasi Ahmad Hassan, kita akan menemukan sejumlah fakta terkait pengaruh orang-orang di sekitar yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran, intelektualitas serta literasi Ahmad Hassan. Dalam bukunya yang berjudul Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal, Ahmad Syafiq Mughni menjelaskan setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi pemikiran Ahmad Hassan diantaranya adalah : (1) pengaruh keturunan, (2) pengaruh bacaan, (3) pengaruh pergaulan.

Pertama, bila dilihat dari pengaruh keturunan, Ahmad Hassan tercatat pernah belajar saat di Singapura kepada empat guru dari India yang kesemua gurunya itu memiliki pemahaman Wahabi (sebuah gerakan pemurnian Islam yang diinisasi oleh Muhammad bin Abdul Wahab). Keempat gurunya itu adalah Thalib Rajab Ali, Abdurrahman, Jaelani dan Ahmad, ayah Ahmad Hassan sendiri. Keempat orang itu terkenal dengan faham Wahabinya dikarenakan sangat menentang dan tidak mau membenarkan adanya talqin, ushalli, tahlilan dan lain sebagainya.

Kedua, bila dilihat dari pengaruh bacaan ada beberapa bacaan yang turut mempengaruhi pemikiran serta intelektualitas A. Hassan dalam tulisan-tulisannya yang kita kenal selama ini. Diantara buku-buku dan koran atau surat kabar yang mempengaruhi pemikiran Ahmad Hassan diantaranya adalah majalah Al-Manar, sebuah majalah terbitan Mesir yang didapatkan A. Hassan dikarenakan sang kakak ipar Abdul Ghani terbiasa berlangganan majalah tersebut, lalu ada majalah Al-Imam, sebuah majalah yang mula-mula dipimpin oleh Al-Hadi, kemudian Thahir Jalaluddin dan akhirnya oleh seseorang bernama Abbas. Saat di Surabaya, Ahmad Hassan mendapatkan buku Kafa’ah yang ditulis oleh Ahmad Surkati, seorang pembaharu Islam juga pendiri organisasi Al-Irsyad. Isi buku tersebut diantaranya berkisah tentang fatwa Ahmad Surkati yang menerangkan bahwa muslim dengan muslimah diperbolehkan menikah tanpa memandang golongan dan derajat. Selain buku Kafa’ah yang ditulis oleh Ahmad Surkati, A Hassan pun tercatat dipengaruhi juga oleh buku Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd pada saat ia bertamu ke rumah sahabatnya Bibi Wantee. Salah satu persoalan yang dibahas di dalam buku tersebut adalah persoalan tentang perbandingan keempat mazhab fiqih seperti mazhab Syafi’i, Hanafi, Hambali dan Maliki. Di Bandung, pemikiran Ahmad Hassan turut diwarnai oleh buku-buku seperti Zadul Ma’ad karangan Ibnul Qayyim Jauziyyah, Nailul Authar karangan Asy-Syaukani dan Al-Manar di bagian fatwanya.

Ketiga, bila dilihat dari pengaruh pergaulan di sekitarnya. Tercatat pemikiran Ahmad Hassan turut dipengaruhi oleh salah seorang gurunya yang berasal dari Mesir saat dirinya sama-sama mengajar di sekolah Assegaf. Dalam beberapa kali pertemuan Ahmad Hassan terlihat mencium tangan (taqbil) kepada seseorang yang tergolong sayyid. Pada satu perjamuan makan malam di rumah kawannya yang berasal dari Mesir, ia dicaci maki habis-habisan karena sikapnya yang terkesan merendahkan dan dianggap menghinakan diri terhadap sesama manusia. Hal tersebut mendorong dirinya untuk menulis sebuah artikel dalam majalah Utusan Melayu tentang taqbil. Tulisannya bersifat pertanyaan dengan kesimpulan ‘apakah soal tersebut tidak merendahkan sesuatu golongan diantara kaum muslimin. Pada tahun 1917, ia bersama seorang kawannya Hisyam Yunus berniat mengarang sebuah buku agama yang semata-mata beralasan Qur’an dan Sunnah. Niat ini sampai pada usaha mengadakan persiapan-persiapan tetapi setelah menelaah isi kitab Shahih Bukhari mereka bertemu beberapa hal yang bertentangan dengan mazhab Syafi’i, salah satunya tentang air musta’mal. Namun, niat ini diurungkan karena mereka berdua tidak berani menentang ajaran mazhab Syafi’i. Selain itu, waktu di Surabaya, A Hassan tercatat banyak bergaul dengan Faqih Hasyim serta tercatat menghadiri pertemuan-pertemuan Al-Irsyad di bawah bimbingan Ahmad Sorkati. Sementara itu, saat ia di Bandung, ia tercatat bergaul akrab dengan Haji Zamzam dan Muhammad Yunus dari Persatuan Islam yang kelak pada tahun 1926, Ahmad Hassan sendiri melamar menjadi anggota Persis hingga akhirnya diangkat menjadi Guru Utama Persatuan Islam.

Kesimpulan

Menarik bilamana kita menyimak sekilas perjalanan intelektual seorang Ahmad Hassan. Seseorang yang mumpuni dalam segala bidang. Seseorang yang meninggalkan banyak karya dan karsa untuk kehidupan jam’iyyah di masa yang akan datang. Tidak hanya perjalanan beliau dalam berkarya, namun juga keuletan beliau dalam menelisik banyak kitab, membaca, mempelajarinya lalu tanpa sungkan menerima kritikan dari murid-muridnya tentu menjadi satu tugas penting untuk gerak jam’iyyah ke depannya. Ahmad Hassan tidak hanya mengkaderkan murid-muridnya untuk menjadi pelanjut jihad jam’iyyah secara fisik. Namun juga mengkader daya intelektualitas murid-muridnya dengan menjadikan mereka sebagai kawan atau partner dalam menulis atau bahkan dalam berdebat semisal salah satu murid kesayangannya yakni Endang Abdurrahman. Satu pertanyaan yang kemudian layak kita hadapkan ke depan adalah, sudah siapkah kita menjadi pelanjut dari gerak intelektualitas seorang Ahmad Hassan, sebab bukankah dakwah Persis itu sudah seharusnya melahirkan pelanjut bukan pengikut. Semoga, ada satu diantara sekian banyak anggota di jam’iyyah ini yang bisa melanjutkan perjuangan intelektual seorang Ahmad Hassan.***

Daftar Bacaan :

  • Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980
  • A Syafiq Mughni, Hassan Bandung Pemikir Radikal, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1980
  • Dadan Wildan, Yang Dai Yang Politikus, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997

 

Berjalan ke Arah Cinta

santri-ciamis-jalan-ke-jakarta_20161130_084417

Aku berjalan menuju arah yang tak menentu. Melipat jarak

lalu memendekkan kenangan dimana ingatan-ingatan luka

berbaris di sepanjang kemenangan yang tak kunjung abadi

di sebaris kekalahan tentang kapan menjadi tua. Lalu duka

mengembalikan masing-masing muasal. Berbicara agar dia

saling mengutuhkan ketika kaki-kaki telanjang itu kembali

menjejak sebagian perayaan dimana alamat-alamat sendiri

ketika akhirnya kepal ingatan saling mengingatkan.

 

Memberi ruang ketika kaki-kaki itu tetap melangkah pasti.

Menuntun bayang-bayang purnama dimana terik matahari

esok pagi masih bisa menjadi saksi atas pertanda kenangan,

kebangkitan dan kemenangan yang tak kunjung selesai kita

susuri sebab-sebab kebangkitannya. Melawan keterpurukan

untuk membaca sebagian diri pada kaca-kaca yang tak akan

kembali lewat bias ingatan yang menyepi sendiri kemudian.

 

Lalu, di hadapan jendela yang mengembun. Lewat sisa-sisa

rintik hujan yang mengembun di kacanya. Aku tak kembali

bertutur, merawat atau membiarkan tumbuh kembang riuh

pada sebagian gambar tentang doa-doa yang tetap kembali

menafsirkan tautan-tautan lain tentang bunga warna-warni

dimana kita dan kebaikan tetap berjalan lurus menuju cinta

juga dakuan-dakuan rasa lain yang tumbuh bersamanya.

 

2017

Jakarta

673batavia

Padanya, segala bentuk harap dititipkan. Serangkaian beban ditangguhkan. Kerja yang menumpuk, data dan angka yang membengkak. Juga senarai doa-doa hingga beribu pengharapan tak pernah putus kita larung ketika sejumlah gejolak tetap ada dalam simpul kebersamaan. Meneduhkan segala kabar dimana sudut-sudut kelopak mata kita masih menyimpan harap tentang rasa optimis runtuh bangkitnya sebuah peradaban. Gerak yang kemudian menyatukan. Pilihan yang kemudian dimenangkan. Lalu doa-doa yang tetap dilarung di tengah caci maki kebencian, hujatan ketidakpedulian, atau suara-suara lain yang seringkali ditafsir sebagai bentuk ketidaksukaan pada mereka yang terpilih untuk menjalankan dan membimbing jutaan penghuni Jakarta yang tak pernah sepi dari gemerlap hari-hari menuju lapang kehidupan yang saling mengabadikan. Pada Jakarta, kita sesekali memotret tentang remuk redam rasa, pada Jakarta pula kita pernah bahkan berulangkali diuji sebagai seorang manusia. Dan pada Jakarta, senarai angka dalam doa-doa tetap ada membentuk sebentuk harap tentang kota bahagia yang diharap tidak pernah lupa pada akar-akar kemanusiaannya. Pada Jakarta, kita akan bercermin tentang banjir yang datang mengingatkan, tentang macet yang mengajarkan kesabaran, juga tentang hal-hal lainnya yang tetap mengajarkan bahwa silau dunia tetaplah peringatan sementara tentang hidup yang sesungguhnya bukan milik kita. Tentang dunia yang hanya pinjaman. Juga tentang surga dan neraka yang kelak kita pilih dalam lelah penat perjalanan kita di dunia hari ini, esok, atau mungkin nanti.

Sebab, pada Jakarta-lah kita akan bercermin, mempertanyakan rasa-rasa lain yang tak pernah mudah kita tafsir meski hiruk pikuk itu kini berubah menjadi gelombang syukur tak berhingga. Gelombang yang lagi-lagi mengajarkan kepada kita tentang ikhtiar tanpa batas sebagai tanda cinta untuk jengkal perjalanan juga kota-kota yang semakin asing dengan satu dua gemerlapnya. Tabik !

2017

Mengurai Makna Saur Mama anggitan KH. Utsman Sholehuddin

100_6709

Panggung Sastra Religi di Nusantara

Dalam bukunya yang berjudul ‘Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia’, Ajip Rosidi menyebutkan bahwa kemunculan sastrawan-sastrawati yang mengusung reformis Islam diawali dengan angkatan Balai Pustaka melalui karya-karya Hamka. Berlanjut pada masa Pujangga Baru dengan munculnya beberapa penyair yang mengusung tema-tema keagamaan seperti Sanusi Pane, Amrijn Pane, J.E. Tatengkeng hingga di masa 1945, 1953 sampai 1966 dengan Taufiq Ismail sebagai salah satu pioneer-nya. Sementara pada masa 1970-an sampai saat ini muncul sastrawan-sastrawan lain yang mengusung tema serupa baik dalam penulisan puisi, prosa maupun drama. Beberapa pengarang ini memiliki catatan-catatan khas dalam pusaran-pusaran ide religiusnya. Dimulai dari KH. Mustofa Bisri, D Zawawi Imron, sampai yang mutakhir Helvy Tiana Rosa dan Habiburrahman El-Shirazy.

Keseluruhan karya sastrawan-sastrawati tersebut banyak mengungkapkan persoalan-persoalan keagamaan baik persoalan secara personal maupun persoalan di masyarakat. Bahkan salah satu novel berjudul ‘Kambing dan Hujan’ buah karya Machfud Ikhwan yang menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan novel di Dewan Kesenian Jakarta justru mengangkat cerita lain yakni tentang konflik yang biasa terjadi antara dua organisasi masa Islam terbesar di Nusantara yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Cerita-cerita tadi setidaknya memberikan gambaran bahwa geliat kesusastraan religius di negeri ini berkembang demikian pesat. Tidak lagi terkungkung dengan aturan-aturan pelik, namun justru sudah mulai menyentuh persoalan-persoalan yang seringkali dianggap tabu dalam perjalanan masyarakat Nusantara. Dobrakan demi dobrakan terus dilakukan hingga karya-karya tersebut tampil dengan begitu menyegarkan. Mulai dari sajak-sajak Sanusi Pane, Amrijn Pane, J.E Tatengkeng, hingga Taufiq Ismail. Karya-karya tersebut tidak hanya lahir dalam bentuk sajak secara murni, melainkan juga lahir dalam bentuk-bentuk lain seperti prosa, drama dan lain sebagainya. Bahkan seorang Hans Bague Jassin atau yang akrab kita kenal HB Jassin, sang paus sastra Indonesia justru menulis terjemah Al-Qur’an dalam bentuk sajak. Hal ini menunjukkan bahwasannya karya sastra mulai bisa dinikmati dengan begitu lenturnya tanpa ada sekat apapun juga termasuk ikatan-ikat atau aturan dalam periode Melayu.

Ulama Persis, Sastra dan Dakwah

Dalam perjalanan sejarahnya yang membentang sepanjang sembilan puluh empat tahun lamanya, paling tidak dalam catatan sejarah ada empat nama ulama Persis yang mencoba menulis karya sastra. Empat nama tersebut diantaranya Ahmad Hassan, Endang Saifuddin Anshary, Maman Nurzaman Romli dan Utsman Sholehuddin. Keempat-empatnya paling tidak tercatat menulis karya sastra dalam bentuk sajak dan prosa. Seperti Ahmad Hassan melalui empat jilid Syair-nya. Endang Saifuddin Anshary melalui sajak-sajaknya yang tersebar di media massa dalam medio tahun 1950-1960-an. Utsman Sholehuddin melalui dua jilid kumpulan dongengnya yang diberi judul Saur Mama yang terhimpun dari dongeng-dongeng yang ditulisnya di majalah Al-Qudwah dan majalah Iber yang dipimpinnya bersama E. Abdullah kawannya. Sebaran ulama ini paling tidak menunjukkan bahwa tradisi penulisan sastra di Persis sudah berlangsung demikian kuat. Adapun keunikannya, penulisan-penulisan karya sastra tersebut justru menjadi demikian intens dilakukan semenjak kepulangan Ahmad Hassan di tahun 1953.

Adapun ulama yang meneruskan jejak Ahmad Hassan dalam menulis karya sastra itu adalah murid-murid dari muridnya sendiri yakni Endang Abdurrahman. Tercatat dalam beberapa karangan tersiar yang penulis telisik ada beberapa murid Endang Abdurrahman yang konsisten melakukan kegiatan berdakwahnya dengan menulis karya sastra semisal Utsman Sholehuddin, Muhammad Romly, Syarif Sukandi dan lain sebagainya. Bahkan yang paling mutakhir beberapa catatan mengarah kepada Wawan Shofwan, putera Utsman Sholehuddin yang melanjutkan tradisi penulisan karya sastra tersebut sebagai jalan, alat atau media dakwah yang dirasakan cukup mumpuni untuk menyampaikan kaidah-kaidah syari’at yang tertuang dalam Qur’an maupun Sunnah.

‘Saur Mama’, Magnum Opus Utsman Sholehuddin

Secara periodik dalam medio tahun 90-an, seorang ulama Persatuan Islam yang sempat duduk sebagai ketua Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam tercatat cukup aktif menulis dongeng dalam dua majalah Persatuan Islam yakni majalah Iber dan majalah Al-Qudwah. Ulama tersebut adalah Utsman Sholehuddin. Seorang ulama Persatuan Islam yang dikenal cerdik cendekia juga mumpuni dalam bidang ilmu mantiq. Beliau tercatat aktif di Persatuan Islam dan Pemuda Persatuan Islam melalui bimbingan gurunya yakni KH. Endang Abdurrahman. Kecintaannya dan keaktifannya di Persatuan Islam diawali dengan keaktifan ayahnya yang bernama Uya Mulyana yang sering mengikuti kegiatan Ahmad Hassan, sang guru juga ideolog utama Persatuan Islam. Beliau tercatat sebagai seorang ulama yang mencintai dan senang berdakwah. Beliau pula yang memprakarsai dan merintis Tamhidul Muballighiin yang menjadi program unggulan dibawah Bidgar Dakwah di tingkat PC, PD, dan PW. Beliau Perintis Tarbiyyatul Muballighiin yang menjadi cikal bakal Pesantren Tahdzibul Washiyyah yang dawali dengan kajian-kajian dan bahtsul kutub di rumahnya. Beliau menjadi guru, orang tua, dan fartner bagi murid-muridnya dalam mengkaji seluruh persoalan. Kesehariannya tidak lepas dari kajian ilmu. Tentu saja sunnah hasanah yang beliau ajarkan dalam berdiskusi ini bisa menjadi sunnah yang dilakukan oleh murid-muridnya dalam mengkaji masalah, karena dengan berjama’ah ketika membahas satu persoalan akan lebih teruji dan lebih tajam analisisnya ketimbang mengkaji sendirian, dalam mengambil dalail maupun menetapkan hukum. Itulah yang dirasakan oleh murid-muridnya. Beliau pernah menjadi Ketua Bidang Maliyah, Ketua Dewan Hisbah, dan Majlis Penasehat. Beliau wafat pada hari Jum’at tanggal 14 November 2014 di Rumah Sakit Al-Islam, Bandung.

Salah satu karya tulisnya yang menjadi magnum opus di kalangan pembacanya adalah serial Kai Sahamah, Kai Atam dan Kai Adma yang dikumpulkan dalam dua seri kumpulan dongeng berjudul Saur Mama. Dalam jilid pertama tercatat sebanyak dua belas cerita pendek berbahasa Sunda dengan tema cerita yang beragam. Dimulai dari catatan keseharian Mama Ajengan dan para muridnya seperti Kai Atam, Kai Sahamah, dan Kai Adma, lalu catatan tentang pentingnya hidup berjam’iyyah, penegasan kembali khittah berjam’iyyah sampai pembabaran terkait persoalan-persoalan sederhana seperti bid’ah, khurafat dan takhayyul. Selain itu ada beberapa dongeng yang memanggungkan catatan-catatan seputar kesesatan Syi’ah, bablasnya pemikiran liberal, sekuler hingga pluralis. Sampai pula pada pembabaran terkait persoalan-persoalan komunisme yang dengan lihainya disampaikan beliau dalam bangun sebuah cerita jenaka yang sangat-sangat pedas menyindir kepentingan-kepentingan aliran tersebut.

Seperti dalam dongeng beliau yang berjudul ‘Iih, Lain Ditulungan’ yang menceritakan tentang seseorang yang diam saja dan tidak mau bertindak apa-apa ketika merasakan kesulitan. Ia tiba-tiba datang kepada Mama Ajengan untuk meminta nasihat. Dongeng ini diawali dari kisah Kai Sahamah yang ditinggal meninggal oleh istrinya hampir 100 hari. Dimana pada saat itu Kai Sahamah bermaksud untuk mengadakan tahlilan sebagai sarana mengingat kepergian sang istri yang ke 100 hari. Dalam cerita tersebut dikisahkan dengan susah payah Kai Sahamah rela melakukan apapun demi melaksanakan tahlilan ke 100 hari meninggalnya sang istri. Pada pelaksanaannya, ternyata Kai Sahamah menemukan banyak kendala, hingga ia memerlukan seorang kawan curhat untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut. Ditemuilah salah satu kawannya yakni Kai Adma yang menyarankan saat itu kepada dirinya untuk menemui Mama Ajengan. Maksud Kai Adma menemui Mama Ajengan adalah agar Kai Sahamah mendapatkan penjelasan terperinci terkait apa yang dilakukannya itu menurut aturan syariat. Hingga pada satu hari, Kai Sahamah dan Kai Adma menemui Mama Ajengan dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialami Kai Sahamah terkait pelaksanaan tahlilan 100 hari sang istri. Begitu berhadapan dengan Mama Ajengan, Kai Sahamah yang menceritakan keluh kesahnya itu justru didamprat sang ajengan dengan kalimat yang tidak mungkin bisa disangkal perasaannya yakni ‘Adma, ari jalma mu’min teh kabeh oge dulur maneh eta teh, prak riung mungpulung, ari papanggih jeung anu karasa beurat teh ulah kalah tuluy ngaringkeb maneh, kawas euweuh badamianeun. Jeung deui kapan eunggeus, ku kuring dijentrekeun, entong neukteuk leukeur meulah jantung, eta mah lain tuduh agama urang, anu kitu mah anu layonna tuluy diduruk tea.’ Setidaknya pesan di atas memiliki maksud bahwasannya orang yang melaksanakan ritual seperti tahlilan dan sebagainya tidak lebih seperti seseorang yang menyerupai kebiasaan suatu kaum. Dimana biasanya upacara memperingati orang meninggal itu ada dalam tradisi Hindu hingga sesuai dengan sabda Nabi yang berbunyi man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut).

Selain membabar persoalan-persoalan terkait larangan melaksanakan hal-hal seperti itu. Kumpulan dongeng ini pun banyak menyorot atau mengetengahkan perenungan-perenungan sederhana antara hubungan manusia dengan pencipta-Nya, hubungan manusia dengan alam, juga hubungan manusia dengan manusia. Paling tidak, Saur Mama sudah memberikan sebuah gambaran tentang penyampaian konsepsi sastra hikmah yang disampaikan dengan demikian apik tanpa melepaskan hal-hal yang terkandung dalam gagasan sastra hikmah itu sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.

Daftar Bacaan :

  • Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Bandung : Pustaka Jaya, 2013
  • Usman Sholehuddin, Saur Mama, Hikayat Dongeng Sunda, tanpa tahun. tanpa penerbit

Undangan Menulis Surat Untuk Gubernur Jawa Barat 2018

main_image_7541

Gaung Pemilukada serentak di tahun 2018 sudah demikian keras terdengar. Begitu pula dengan gaung pemilihan Gubernur Jawa Barat untuk periode 2018-2023. Untuk itu, saya ingin mengajak kawan-kawan yang lahir, besar dan tinggal di wilayah Jawa Barat untuk ikut menulis harapan, kritikan, saran, juga pesan kepada Gubernur Jawa Barat yang kelak terpilih di 2018 nanti. Berikut ketentuannya :

  • Yang berhak menulis surat untuk Gubernur Jawa Barat 2018 adalah yang berasal dari Jawa Barat, lahir di Jawa Barat dan tinggal di Jawa Barat.
  • Surat ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat yang terpilih di tahun 2018.
  • Surat ditulis dalam format surat pada umumnya dengan menyertakan tanggal penulisan surat dan sebagainya.
  • Di akhir surat, dituliskan nama pengirim surat beserta asal daerahnya, contoh :

Tertanda

Aldy Istanzia Wiguna, Ciparay Kabupaten Bandung

  • Tidak diperkenankan menyebutkan nama calon atau bakal calon gubernur yang saat ini ramai diberitakan di media massa baik media elektronik maupun online
  • Isi surat berupa harapan, masukan, saran, kritikan atau curahan hati yang bertujuan untuk membangun Jawa Barat
  • Surat yang ditulis tidak sedang diikutsertakan dalam lomba atau event apapun
  • Surat yang ditulis belum pernah dipublikasikan baik di media cetak maupun online
  • Surat ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda yang baik dan benar serta sesuai dengan kaidah atau tata bahasa
  • Sertakan biodata di bawah surat dengan menggunakan nama asli bukan nama pena.
  • Di atas surat tepatnya sebelum tanggal pembuatan surat ditulis judul surat
  • Surat dikirim melalui email aldy.istanziawiguna@gmail.com dengan subjek SERAT KANGGO GUBERNUR JAWA BARAT.
  • Deadline penulisan surat tanggal 31 Desember 2017 jam 23.59 WIB
  • Surat ditulis dalam kertas A4 dengan huruf Times New Roman font 12 spasi 1,5
  • Halaman surat adalah 3-4 halaman
  • Sosok gubernur di dalam surat disebut dengan panggilan “Abah”
  • Naskah akan diterbitkan dan disampaikan kepada Gubernur Terpilih dalam Pemilukada Serentak 2018

Surat Kecil Ali

Water_Drops_Window_2560x1600

Li, barangkali perpisahan pernah menyimpan kisahnya untuk kita. Terserak diantara kata-kata berantai yang tak sengaja membentuk makna. Mengalirkan arti tentang betapa ringkas perjalanan dimana kita dan doa-doa menjadi teramat dekat ketika bebunyian dzikir seumpama tasbih, takbir dan tahlil masih mengalun syahdu dalam semembentang kebaikan di hari-harimu yang lain. Mencoba untuk saling menepi lalu sesekali kita menebak arah mata angin yang katamu selalu terpaksa tunduk bilamana sudah berjumpa dengan tiang-tiang paling tinggi gedung penunjuk awan tempatmu merekam segala suara. Cericit burung, gemericik hujan, semilir angin, hingga halus udara kelak menjadi saksi tualang-tualang tanpa batas di sepanjang harap hingga angka-angka yang tanggal dalam almanak kita. Tahukah kamu, pertemuan selalu berjumpa dengan perpisahan. Meski terkadang sakit dirasa, tapi ianya dan juga padanyalah kebaikan-kebaikan itu akan bertumbuh menjadi satu titian sederhana tentang tembok-tembok sekolah yang angkuh, perahu-perahu yang abai, juga jembatan-jembatan reyot yang menetap dalam bayang-bayang para pengejar impian, sementara kita tahu penghidupan yang dihidu bertaruh nyawa dalam senyap kematian yang mendadak datang atau tak lagi mengetuk satu dua pintu rumah.

2017

Orang-Orang Asing

img

Kami yang terasing dalam kecemasan, ketakutan dan kegelisahan. Mencari tutur para pembenar dan pemikul kebaikan ketika perlawanan-perlawanan lain menjadi tanya dalam ruang kesendirian. Terbaca dalam ayat-ayat panjang para pemikul risalah. Lalu kami bertanya tentang keasingan kami dalam ruang juga tanda-tanda perjuangan. Lalu sejenak kami menyaksikan ribuan tapak perjuangan dalam pikul juga beban berat hijrah yang kami saksikan sebagai perlawanan. Tentang para pencari ilmu yang tertatih dalam bayang-bayang kematian, mencakupi syukur ketika medan ujian tetap tetap dirasa lebih menggoyahkan rasa tinimbang diam dalam tindak. Atau tentang kota yang dipaksa dibakar, tentang ultimatum-ultimatum yang memaksa setiap detak perjuangan terhenti. Lalu dalam selidik paham, kami sesekali tengadah menyaksikan wajah-wajah panik atas benar yang kami bawa. Tentang jerawat batu yang dilempar wajah-wajah penuh benci. Tentang tegak syariat yang tetap syahdu dalam rindu ruang kami memahami setiap bara iman yang memantik diri. Menunggu ikhtiar para pemikul beban juga kebaikan dalam nyala-nyala terang hingga kibar kebaikan tetap dirasakan meski perih tetap kami lewati.

Pameungpeuk, 2017

Menimbang Sastra Dalam Kultur Dakwah Persis

natsir

Kita jangan lupa mereka yang memperbincangkan pelbagai masalah itu, yang satu ketika nampaknya mungkin seperti perkara kecil saja, tetapi pada hakekatnya mereka adalah pembongkar pokok asal kesesatan-kesesatan yang membawa kita jadi jauh dari rahmat dan inayah Allah SWT. Hubungan antara khurafat dan taqlid, adalah sama eratnya dengan hubungan antara hasil kebudayaan yang gilang gemilang dengan ruh intiqad.

(Mohammad Natsir, Capita Selecta 1)

Sastra adalah salah satu cabang kehidupan budaya bangsa. Melalui karya sastra dapat dibayangkan tingkat kemajuan gambaran tradisi yang sedang berlalu, tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh masyarakat pada suatu masa dan sebagainya (Pusat Pembinaan dan Pembangunan Bangsa Depdikbud, 1985).

Sastra penting bagi kehidupan manusia, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu memberikan pencerahan dan penghalusan batin. Selain itu sastra sanggup menumbuhkan daya kritis, analitis, maupun intelektual pembacanya, sehingga meningkatkan kemampuan interpretasinya terhadap fenomena kehidupan yang tergelar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks hari ini, sastra menjadi teramat penting bagi penyampaian pesan atau amanat yang terkandung dalam berbagai macam genre sastra seperti puisi, prosa maupun drama. Akan tetapi, menilik ke dalam beberapa hal sastra bisa saja menjadi kebalikannya. Ini berkaitan dengan atmosfer atau perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kebudayaan itu sendiri. Sering kita menemukan, sebagian kalangan yang nyinyir terhadap sastra itu sendiri. Menganggap bahwa sastra terkesan khayali tinimbang faktual. Padahal sastra bukan sekedar menonjolkan unsur khayali belaka melainkan unsur-unsur faktual yang bisa membangun juga memberikan penekanan terhadap pembawaan sastra sendiri sebagai medium untuk menyampaikan atau mengabarkan beberapa perihal tentang hak, kewajiban dan juga realitas kehidupan manusia di dunia.

Sastra dan Dakwah

Muncul kemudian pertanyaan, apakah bisa sastra dibawa ke dalam dunia dakwah yang notabene-nya lebih banyak menghadirkan pesan-pesan Ilahiah yang faktual sebab berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Sementara medium sastra yang khayali dan jauh dari hal-hal faktual tersebut ?

Sebenarnya, pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan begitu mudah bilamana kita bisa menyaksikan perkembangan kebudayaan khususnya sastra di masa keemasan Islam. Tengoklah bagaimana syair bisa menempati urutan teratas dalam tradisi masyarakat jahiliyyah Quraisy. Bagaimana sosok penyair demikian menentukan di ranah perpolitikan juga menjadi simbol kebanggaan kaum atau kabilah-kabilah Arab di masa itu. Sejarah mencatat bahwa Umar bin Khattab R.A sebelum masuk Islam, beliau dikenal sebagai seorang orator ulung juga sebagai seorang penyair kebanggaan kabilah bani ‘Ady pada masanya. Juga Abu Bakar Shiddiq R.A yang dalam catatan sejarah juga tercatat sebagai seorang pakar sastra di masanya. Atau para penyair yang hidup berdampingan bersama Nabi. Ikut menyenandungkan syair puji-pujian dalam rangka mendakwahkan Islam ke seantero penjuru dunia. Lalu fakta-fakta tentang penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh sembilan wali atau yang dikenal wali songo. Dalam catatan sejarah terdapat Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang yang melakukan dakwah penyebaran Islam melalui jalur budaya. Ketiganya tercatat piawai menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat kemaharajaan Hindu di masa itu melalui budaya. Salah satunya adalah sastra. Dimana pada masa itu, Sunan Bonang menciptakan sebuah tembang macapat berjudul Tombo Ati, lalu Sunan Kalijaga piawai menggunakan medium wayang kulit dan membuat sebuah syair tembang berjudul Ilir-Ilir. Hal ini membuktikan bahwa sastra dan dakwah berkaitan erat.

Tak hanya pada masa wali songo saja. Sastra juga menjadi sumber kekuatan juga salah satu alat penyampai dakwah yang mumpuni bagi masyarakat di wilayah Sumatera pada masa itu. Terbukti dengan keberadaan sejumlah hikayat, syair dan pantun yang berisikan pesan-pesan Islam dan juga pesan tentang pentingnya mewujudkan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu sastrawan terkenal pada masa itu diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Teungku Chik Pante Kulu, Raja Ali Haji, Tun Sri Lanang, dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Sastrawan dan budayawan Melayu yang hidup pada masa itu juga terkenal sebagai ulama yang dijadikan rujukan umat untuk bertanya. Namun, mereka mampu membawakan atau menyampaikan pesan-pesan Islam dengan begitu menakjubkannya melalui medium sastra. Salah satu karya sastra terkenal di masa itu yang dijadikan sebagai salah satu media dakwah diantaranya adalah Gurindam Dua Belas karangan Raja Ali Haji yang sarat dengan nilai-nilai Islam juga Hikayat Perang Sabil yang ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu yang dijadikan sebagai bacaan wajib para mujahidin Aceh di masa perang Aceh untuk menjadi pelengkap juga panduan para mujahidin dalam memenangkan serta mengobarkan perang sabil (suci) melawan penjajah Belanda.

Fakta-fakta sejarah di atas membuktikan bahwa sastra merupakan salah satu medium penting untuk menjadi penyampai pesan-pesan syari’at Islam (dakwah) dan terbukti menjadi satu dari sekian banyak medium penyampai dakwah yang menjadi begitu penting untuk dikembalikan fungsinya. Hal ini tentu berkaitan dengan apa yang dikemukakan Mohammad Natsir dalam bukunya Capita Selecta bahwa sudah seharusnya gerak kebudayaan yang dijadikan sebagai medium dakwah setidaknya dijauhkan dari hal-hal yang bersifat taklid dan juga khurafat.

Sastra, Dakwah dan Persis (Sebuah Analisa)

Persatuan Islam (Persis) adalah sebuah ormas Islam yang didirikan pada awal tahun 1920-an tepatnya didirikan pada tanggal 12 September 1923 / 01 Shafar 1342 H. Didirikan oleh para pedagang Palembang yang bermukim di Bandung diantaranya H. Zamzam dan H. Yunus. Baru pada tahun 1926, datang seorang laki-laki dari Singapura bernama Ahmad Hassan yang ikut mewarnai gerak dakwah Persis pada masa itu yang masih berupa taklim, kenduri, juga kajian-kajian pemurnian Islam dari hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat dan takhayul. Pada perjalanannya, organisasi pembaharu dari Bandung ini semakin mendapatkan tempat bagi sebagian kalangan masyarakat Hindia Belanda pada masa itu karena gerak dakwahnya yang cenderung militan dan terbuka. Tak segan-segan, pada masa itu bilamana ada satu gerakan yang bertentangan dan hendak mengacaukan kehidupan beragama langsung mendapatkan pertentangan sengit melalui jalan debat. Diantara debat yang paling terkenal pada masa itu adalah debat antara Persis dan Ahmadiyyah. Dimana pada masa itu wakil dari Persis adalah A. Hassan dan Endang Abdurrahman sedangkan wakil dari Ahmadiyyah adalah Abu Bakar Ayyub. Perdebatan itu berlangsung sengit bahkan sampai berhari-hari. Pesertanya pun tumpah ruah sampai keluar bahkan sampai disiarkan oleh beberapa koran terkemuka di Hindia Belanda pada masa itu salah satunya adalah majalah Fikiran Rakjat.

Selain melalui media perdebatan, dakwah Persis pun melebar melalui media publikasi diantaranya melalui majalah-majalah seperti majalah Al-Lisaan (1935), Al-Fatwa (1931), Pembela Islam (1929), juga majalah Risalah (1962) yang sampai hari ini masih eksis terbit. Tak hanya melalui majalah-majalah berbahasa Melayu. Adapun pada masa itu pula terbit majalah-majalah Persatuan Islam berbahasa Sunda seperti Iber (1967), At-Taqwa (1937), dsb. Selain Persis, otonom kewanitaan Persis yakni Persatuan Islam Istri (Persistri) pada tahun 1953 menerbitkan majalah khusus kewanitaan yang berjudul Berita Persistri yang kemudian berubah nama menjadi Akhbar Persistri. Hal ini bisa menunjukkan suatu bukti bahwa tradisi menulis di kalangan ulama Persis dan juga otonom Persis telah berlangsung dengan demikian baik. Bahkan pada masa itu buku-buku karangan para ulama Persis bisa dijadikan rujukan umat dari berbagai penjuru negeri. Salah satunya adalah buku-buku karangan A. Hassan, Isa Anshary, Mohammad Natsir, Endang Abdurrahman, Abdul Qadir Hassan. Selain para ulama Persis, ada pula generasi muda Persis yang pada masa itu aktif dan terkenal produktif menulis salah satunya adalah Fachruddin Al-Kahiri. Menariknya, tulisan-tulisan para ulama Persis dan generasi muda Persis pada masa itu juga tidak hanya piawai membahas persoalan politik, agama, juga hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Islam. Akan tetapi juga piawai membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan permasalahan kebudayaan. Salah satu ulama Persis yang dikenal luwes dalam membahas persoalan kebudayaan ini adalah Mohammad Natsir. Selain Mohammad Natsir, A. Hassan guru Persatuan Islam yang juga anggota Majelis Ulama Persatuan Islam (Dewan Hisbah) pada masa itu juga mempublikasikan sebanyak dua jilid kumpulan sya’ir Islam juga empat jilid kumpulan humor yang dijudulinya Tertawa. Lalu pada era 1980-an tradisi penulisan kebudayaan ini berlanjut kepada generasi berikutnya yakni generasi Ust. Abdullah yang pada masa itu demikian piawai menulis gagasan-gagasannya dalam majalah Iber dengan menggunakan bahasa daerah. Lalu kepiawaian ust. Endang Abdurrahman dalam menyampaikan gagasan juga menuturkan sejarah Islam dalam bukunya Renungan Tarikh yang dikenal dengan keindahan bahasanya juga ketenangan dalam penuturan setiap kisahnya.

Kegemilangan sejarah di atas setidaknya bisa memberikan sebuah bukti bahwa dakwah Persatuan Islam (Persis) juga dibangun dengan dakwah-dakwah yang bersifat kebudayaan, meski pada kenyataannya bila menyaksikan konteks hari ini, kita menyaksikan sebagian asatidz Persatuan Islam sedikit antipati terhadap dakwah dengan medium budaya ini. Ini bisa dibuktikan dengan vakumnya Persis dari ranah pengkajian budaya. Berbeda halnya dengan Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia yang sudah sedari tahun 1960-an mendirikan Lesbumi sebagai salah satu wadah para budayawan, seniman juga sastrawan yang terdiri dari berbagai genre (aliran) seni ikut meramaikan pentas dakwah NU di kancah nasional. Pendirian Lesbumi menjadi semacam jawaban atas pendirian Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang pada masa itu digawangi oleh sastrawan kenamaan Indonesia yakni Pramoedya Ananta Toer yang notabenenya menjadi bagian dari kampanye Partai Komunis Indonesia yang pada masa itu demikian nyaring menentang bahkan mencegah dakwah Islam melalui medium kebudayaan.

Tentu, hal ini bisa dijadikan semacam pertarungan sengit melalui medium budaya dimana dua lembaga kebudayaan berada pada titik paling menentukan di masa itu. Beda halnya dengan Persis yang pada masa itu cenderung tertutup terhadap kebudayaan-kebudayaan yang lahir di luar. Persis di bawah kepemimpinan Endang Abdurrahman pada masa itu lebih memfokuskan kegiatan dakwahnya melalui jalan pendidikan dan juga pengembalian terhadap khittah Persis di masa awal. Hal itu bisa dipahami sebagai salah satu bentuk isolasi strategis yang dilancarkan Persis mengingat ada banyak oknum luar yang berusaha memanfaatkan keberadaan serta kehadiran Persis untuk mengeruk kepentingan pribadi. Akan tetapi, bila ditelisik lebih jauh maka pola isolasi strategis ini justru terkesan menciptakan gelombang dalam gelas. Riak intelektualitas Persis pada masa itu seperti terhambat. Adanya pakem atau suatu pemahaman bahwa garis intelektualitas asatidz juga kaum cendekiawan Persis pada masa itu lebih memainkan peranannya pada bidang pengkajian fiqih serta aturan-aturan syari’at. Ini terbukti dengan semakin kuatnya Dewan Hisbah Persis mengeluarkan fatwa-fatwa berkaitan dengan aturan berkehidupan jam’iyyah di masa-masa tersebut yang mana bila dikaji lebih dalam lagi ini bisa menjadi semacam benturan tersendiri ketika pada masa kepemimpinan berikutnya mulai memberlakukan jalan atau upaya berdakwah melalui jalan lain, salah satunya budaya.

Berkaca dari pendapat Mohammad Natsir dalam bukunya yang berjudul Capita Selecta, bahwa sudah seharusnya dakwah Persis bukan lagi dakwah yang dititikberatkan kepada salah satu masalah. Ada baiknya dakwah Persis bisa menyentuh bidang-bidang lain selama bidang-bidang itu tidak melanggar aturan syari’at Islam juga tidak mengarah pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat juga takhayul. Terlebih mengingat pesan ust. Shiddiq Amien tentang pembagian tugas dakwah di jam’iyyah berdasarkan kemampuan masing-masing. Persis boleh saja terpaku pada pola dakwah dengan pokok kajian fiqh. Akan tetapi pola penyampaian daripada kajian-kajian tersebut sudah seharusnya dikreasikan dengan pola dakwah lainnya. Salah satunya adalah sastra selama dalam pola penyampaian atau penulisannya tidak ada aturan syari’at Islam yang dilanggar juga tidak menjerumuskan pembaca atau pendengar pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat, takhayul dan juga taqlid yang berlebihan. Mengutip perkataan dari allahu yarham ust. Endang Abdurrahman bahwasannya dakwah Persis itu bukan untuk mencari puas melainkan untuk mencari jelas.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, menarik bilamana Persis mulai melirik sastra sebagai salah satu medium dakwahnya. Namun, sastra sebagai alat dakwah di sini tidak berarti harus berlepas dari hal-hal fiksi-nya, melainkan sastra tetap memberikan peranan sebagai bentuk tinjauan kritis, penelaahan juga penelitian terhadap produk atau fatwa yang dikeluarkan Dewan Hisbah Persis atau dalam penyampaian-penyampaian dakwah lainnya yang berkenaan dengan perihidup berjam’iyyah ke depannya. Sastra bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif jalan dakwah Persis ke depannya selama dalam perjalanannya tidak ada yang dilanggar baik itu aturan syari’at yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah juga tidak menjerumuskan umat kepada taqlid buta atau juga kepada hal-hal yang berbau bid’ah, khurafat dan takhayul.

Sumber Bacaan :

  • Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim, Jakarta: Serambi, 2004
  • Mohammad Natsir, Kebudayaan Islam Dalam Prespektif Sejarah, Jakarta: PT. Girimukti Pasaka, 1988
  • S Moeljanto & Taufiq Ismail, Prahara Budaya, (Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI, dkk), Bandung: Penerbit Mizan, 1995
  • Persatuan Islam, Qanun Asasi, Qanun Dakhili, Pedoman Kerja dan Kaifiyah Kerja Dewan Hisbah, Bandung: PP. Persatuan Islam, 1995
  • Tiar Anwar Bachtiar dan Pepen Irfan Fauzan, Persis dan Politik : Sejarah dan Aksi Pemikiran Politik Persis 1923-1927, Jakarta: Pembela Islam Media, 2012
  • Philip K Hitti, History of The Arabs, Jakarta: Serambi, 2014

Balasan Tuba

Kisah ini saya dapati dari status seseorang beberapa bulan yang lalu. Disampaikan dengan nada geram bahkan penuh amarah. Ia sangat geram menyaksikan seorang ‘oknum’ yang disinyalir mengaku-ngaku. Seseorang yang mengeruk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan organisasi. Saya sendiri tidak tahu, siapa orangnya. Namun, saya justru tertarik pada kisah yang telah jalin berjalin di masa lalu tentang hal serupa tapi tak sama. Ketika jam’iyyah ini dipimpin seorang kharismatik bernama Endang Abdurrahman. Salah seorang murid kinasih Ahmad Hassan. Pada masanya, ketika riak dakwah Persis bersinggungan dengan riak-riak lain di pentas politik negeri. Tentang jejaring orang-orang yang bersimpang jalan mulai mencari simpatik, juga tentang tahun 60-an yang demikian panas akibat sengketa ideologi yang tak terselesaikan. Sampai pada satu titik, ada semacam pemaksaan untuk menerima apa yang kemudian kita kenal sebagai asas tunggal. Lalu, ada sebagian kalangan yang tiba-tiba saja mengaku sebagai bagian dari jam’iyyah. Sementara faktanya, mereka hanya menginginkan sesuatu. Sampai pada akhirnya, semua bermuara pada putusan memberlakukan isolasi strategis. Sebuah gerakan yang konon menimbulkan semacam gelombang dalam gelas. Namun, nyatanya tetap terasa demikian khidmat ketika akhirnya semua sama-sama tahu peran dan fungsinya sebagai bagian dari jam’iyyah. Sebuah gagasan cerdas yang dulu disangka akan membelenggu. Namun, ternyata ketika pada titik-titik tertentu mencoba membaca dan mengkhidmati peri hidup murid-murid beliau justru itu memang tidak terjadi. Sebab, yang menjadi pesan penting gagasan ini adalah jangan pernah kamu kerjakan apa yang bukan bagian kamu. Maka, soal-soal oknum itu ada baiknya tak diributkan ke permukaan. Bukan soal pantas atau tidaknya. Namun, ini soal bagaimana adab luhur para ulama kita mengajarkan bahwa ikhtiar dakwah adalah mengajak sampai ia mau menerima ajakan kita.

Ciparay, 08 Dzulhijjah 1438 H / 30 Agustus 2017 M

Aldy Istanzia Wiguna

Ulama

Hadjis bij een moskee te Rantau 1910(FILEminimizer)

Ulama adalah pewaris Nabi. Begitulah, pesan sederhana yang menggemakan seisi semesta. Pesan tentang betapa pentingnya peran seorang ‘alim dalam memandu perjalanan umat di setapak kehidupan. Peran yang tentu teramat berat sebab kelak geraknya adalah tuntunan, ujarnya adalah ikutan dan setiap tindakannya adalah panutan. Seseorang yang padanya beban berat risalah dipikulkan. Beban kebaikan yang kelak terbagi dengan begitu purna meski terkadang banyak kalimat cibiran, nyinyiran bahkan cacian dan makian yang mendarat di depan juga di belakangnya. Seseorang yang terkadang kurang dan lebihnya ikut dibincangkan. Seseorang yang tidak pernah lupa bahwa ilmu yang dikuasainya hanyalah titik-titik yang berusaha menemukan temu di sehampar kedalaman samudera ilmu-Nya. Seseorang yang kelak terbimbing dengan amanah membimbing umat menuju jalan cahaya. Seseorang yang padanyalah dulu kita pernah mengamanahkan sepotong episode perjuangan bangsa merebut kemerdekaannya. Padanya, abadi sosok-sosok tangguh nan faqih semisal Ahmad Hassan, Ahmad Dahlan Hasyim Asy’ari, Isa Anshary, Mohammad Natsir dan lain sebagainya. Pada sosok ini cermin keteladanan menjadi semacam telaga yang demikian jernih untuk diteguk kapan saja bilamana kita mulai merasa kekeringan. Mulai dari pelajaran tentang komitmen tulus membina dan membimbing umat. Juga komitmen membersamai perjuangan tanpa kenal lelah meski sesekali ada tersisa lubang nyeri di dada ketika menyaksikan sebagian santrinya pulang dan memilih jalan beda darinya.

Pada mereka di tengah tasyakur bangsa ini kita belajar tentang bagaimana seharusnya kita meneruskan tapak-tapak perjuangan mereka, merawat dan juga melanjutkan gagasan-gagasan besar mereka untuk mewujudkan kemaslahatan dan kebermanfaatan bagi bangsa seperti termaktub dalam doa kita bersama semoga kelak baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menjadi kenyataan. Dan semoga di tangan mereka dan ikhtiar kita menelusuri panjang perjalanan mereka, adab luhur mereka yang tersepuh Qur’an dan Hadits juga jalan-jalan lapang mereka demi menjaga marwah juga izzul Islam wal muslimin.