Orang-Orang Asing

img

Kami yang terasing dalam kecemasan, ketakutan dan kegelisahan. Mencari tutur para pembenar dan pemikul kebaikan ketika perlawanan-perlawanan lain menjadi tanya dalam ruang kesendirian. Terbaca dalam ayat-ayat panjang para pemikul risalah. Lalu kami bertanya tentang keasingan kami dalam ruang juga tanda-tanda perjuangan. Lalu sejenak kami menyaksikan ribuan tapak perjuangan dalam pikul juga beban berat hijrah yang kami saksikan sebagai perlawanan. Tentang para pencari ilmu yang tertatih dalam bayang-bayang kematian, mencakupi syukur ketika medan ujian tetap tetap dirasa lebih menggoyahkan rasa tinimbang diam dalam tindak. Atau tentang kota yang dipaksa dibakar, tentang ultimatum-ultimatum yang memaksa setiap detak perjuangan terhenti. Lalu dalam selidik paham, kami sesekali tengadah menyaksikan wajah-wajah panik atas benar yang kami bawa. Tentang jerawat batu yang dilempar wajah-wajah penuh benci. Tentang tegak syariat yang tetap syahdu dalam rindu ruang kami memahami setiap bara iman yang memantik diri. Menunggu ikhtiar para pemikul beban juga kebaikan dalam nyala-nyala terang hingga kibar kebaikan tetap dirasakan meski perih tetap kami lewati.

Pameungpeuk, 2017

Advertisements

Menimbang Sastra Dalam Kultur Dakwah Persis

natsir

Kita jangan lupa mereka yang memperbincangkan pelbagai masalah itu, yang satu ketika nampaknya mungkin seperti perkara kecil saja, tetapi pada hakekatnya mereka adalah pembongkar pokok asal kesesatan-kesesatan yang membawa kita jadi jauh dari rahmat dan inayah Allah SWT. Hubungan antara khurafat dan taqlid, adalah sama eratnya dengan hubungan antara hasil kebudayaan yang gilang gemilang dengan ruh intiqad.

(Mohammad Natsir, Capita Selecta 1)

Sastra adalah salah satu cabang kehidupan budaya bangsa. Melalui karya sastra dapat dibayangkan tingkat kemajuan gambaran tradisi yang sedang berlalu, tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh masyarakat pada suatu masa dan sebagainya (Pusat Pembinaan dan Pembangunan Bangsa Depdikbud, 1985).

Sastra penting bagi kehidupan manusia, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu memberikan pencerahan dan penghalusan batin. Selain itu sastra sanggup menumbuhkan daya kritis, analitis, maupun intelektual pembacanya, sehingga meningkatkan kemampuan interpretasinya terhadap fenomena kehidupan yang tergelar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks hari ini, sastra menjadi teramat penting bagi penyampaian pesan atau amanat yang terkandung dalam berbagai macam genre sastra seperti puisi, prosa maupun drama. Akan tetapi, menilik ke dalam beberapa hal sastra bisa saja menjadi kebalikannya. Ini berkaitan dengan atmosfer atau perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kebudayaan itu sendiri. Sering kita menemukan, sebagian kalangan yang nyinyir terhadap sastra itu sendiri. Menganggap bahwa sastra terkesan khayali tinimbang faktual. Padahal sastra bukan sekedar menonjolkan unsur khayali belaka melainkan unsur-unsur faktual yang bisa membangun juga memberikan penekanan terhadap pembawaan sastra sendiri sebagai medium untuk menyampaikan atau mengabarkan beberapa perihal tentang hak, kewajiban dan juga realitas kehidupan manusia di dunia.

Sastra dan Dakwah

Muncul kemudian pertanyaan, apakah bisa sastra dibawa ke dalam dunia dakwah yang notabene-nya lebih banyak menghadirkan pesan-pesan Ilahiah yang faktual sebab berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Sementara medium sastra yang khayali dan jauh dari hal-hal faktual tersebut ?

Sebenarnya, pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan begitu mudah bilamana kita bisa menyaksikan perkembangan kebudayaan khususnya sastra di masa keemasan Islam. Tengoklah bagaimana syair bisa menempati urutan teratas dalam tradisi masyarakat jahiliyyah Quraisy. Bagaimana sosok penyair demikian menentukan di ranah perpolitikan juga menjadi simbol kebanggaan kaum atau kabilah-kabilah Arab di masa itu. Sejarah mencatat bahwa Umar bin Khattab R.A sebelum masuk Islam, beliau dikenal sebagai seorang orator ulung juga sebagai seorang penyair kebanggaan kabilah bani ‘Ady pada masanya. Juga Abu Bakar Shiddiq R.A yang dalam catatan sejarah juga tercatat sebagai seorang pakar sastra di masanya. Atau para penyair yang hidup berdampingan bersama Nabi. Ikut menyenandungkan syair puji-pujian dalam rangka mendakwahkan Islam ke seantero penjuru dunia. Lalu fakta-fakta tentang penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh sembilan wali atau yang dikenal wali songo. Dalam catatan sejarah terdapat Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang yang melakukan dakwah penyebaran Islam melalui jalur budaya. Ketiganya tercatat piawai menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat kemaharajaan Hindu di masa itu melalui budaya. Salah satunya adalah sastra. Dimana pada masa itu, Sunan Bonang menciptakan sebuah tembang macapat berjudul Tombo Ati, lalu Sunan Kalijaga piawai menggunakan medium wayang kulit dan membuat sebuah syair tembang berjudul Ilir-Ilir. Hal ini membuktikan bahwa sastra dan dakwah berkaitan erat.

Tak hanya pada masa wali songo saja. Sastra juga menjadi sumber kekuatan juga salah satu alat penyampai dakwah yang mumpuni bagi masyarakat di wilayah Sumatera pada masa itu. Terbukti dengan keberadaan sejumlah hikayat, syair dan pantun yang berisikan pesan-pesan Islam dan juga pesan tentang pentingnya mewujudkan syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu sastrawan terkenal pada masa itu diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Teungku Chik Pante Kulu, Raja Ali Haji, Tun Sri Lanang, dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Sastrawan dan budayawan Melayu yang hidup pada masa itu juga terkenal sebagai ulama yang dijadikan rujukan umat untuk bertanya. Namun, mereka mampu membawakan atau menyampaikan pesan-pesan Islam dengan begitu menakjubkannya melalui medium sastra. Salah satu karya sastra terkenal di masa itu yang dijadikan sebagai salah satu media dakwah diantaranya adalah Gurindam Dua Belas karangan Raja Ali Haji yang sarat dengan nilai-nilai Islam juga Hikayat Perang Sabil yang ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu yang dijadikan sebagai bacaan wajib para mujahidin Aceh di masa perang Aceh untuk menjadi pelengkap juga panduan para mujahidin dalam memenangkan serta mengobarkan perang sabil (suci) melawan penjajah Belanda.

Fakta-fakta sejarah di atas membuktikan bahwa sastra merupakan salah satu medium penting untuk menjadi penyampai pesan-pesan syari’at Islam (dakwah) dan terbukti menjadi satu dari sekian banyak medium penyampai dakwah yang menjadi begitu penting untuk dikembalikan fungsinya. Hal ini tentu berkaitan dengan apa yang dikemukakan Mohammad Natsir dalam bukunya Capita Selecta bahwa sudah seharusnya gerak kebudayaan yang dijadikan sebagai medium dakwah setidaknya dijauhkan dari hal-hal yang bersifat taklid dan juga khurafat.

Sastra, Dakwah dan Persis (Sebuah Analisa)

Persatuan Islam (Persis) adalah sebuah ormas Islam yang didirikan pada awal tahun 1920-an tepatnya didirikan pada tanggal 12 September 1923 / 01 Shafar 1342 H. Didirikan oleh para pedagang Palembang yang bermukim di Bandung diantaranya H. Zamzam dan H. Yunus. Baru pada tahun 1926, datang seorang laki-laki dari Singapura bernama Ahmad Hassan yang ikut mewarnai gerak dakwah Persis pada masa itu yang masih berupa taklim, kenduri, juga kajian-kajian pemurnian Islam dari hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat dan takhayul. Pada perjalanannya, organisasi pembaharu dari Bandung ini semakin mendapatkan tempat bagi sebagian kalangan masyarakat Hindia Belanda pada masa itu karena gerak dakwahnya yang cenderung militan dan terbuka. Tak segan-segan, pada masa itu bilamana ada satu gerakan yang bertentangan dan hendak mengacaukan kehidupan beragama langsung mendapatkan pertentangan sengit melalui jalan debat. Diantara debat yang paling terkenal pada masa itu adalah debat antara Persis dan Ahmadiyyah. Dimana pada masa itu wakil dari Persis adalah A. Hassan dan Endang Abdurrahman sedangkan wakil dari Ahmadiyyah adalah Abu Bakar Ayyub. Perdebatan itu berlangsung sengit bahkan sampai berhari-hari. Pesertanya pun tumpah ruah sampai keluar bahkan sampai disiarkan oleh beberapa koran terkemuka di Hindia Belanda pada masa itu salah satunya adalah majalah Fikiran Rakjat.

Selain melalui media perdebatan, dakwah Persis pun melebar melalui media publikasi diantaranya melalui majalah-majalah seperti majalah Al-Lisaan (1935), Al-Fatwa (1931), Pembela Islam (1929), juga majalah Risalah (1962) yang sampai hari ini masih eksis terbit. Tak hanya melalui majalah-majalah berbahasa Melayu. Adapun pada masa itu pula terbit majalah-majalah Persatuan Islam berbahasa Sunda seperti Iber (1967), At-Taqwa (1937), dsb. Selain Persis, otonom kewanitaan Persis yakni Persatuan Islam Istri (Persistri) pada tahun 1953 menerbitkan majalah khusus kewanitaan yang berjudul Berita Persistri yang kemudian berubah nama menjadi Akhbar Persistri. Hal ini bisa menunjukkan suatu bukti bahwa tradisi menulis di kalangan ulama Persis dan juga otonom Persis telah berlangsung dengan demikian baik. Bahkan pada masa itu buku-buku karangan para ulama Persis bisa dijadikan rujukan umat dari berbagai penjuru negeri. Salah satunya adalah buku-buku karangan A. Hassan, Isa Anshary, Mohammad Natsir, Endang Abdurrahman, Abdul Qadir Hassan. Selain para ulama Persis, ada pula generasi muda Persis yang pada masa itu aktif dan terkenal produktif menulis salah satunya adalah Fachruddin Al-Kahiri. Menariknya, tulisan-tulisan para ulama Persis dan generasi muda Persis pada masa itu juga tidak hanya piawai membahas persoalan politik, agama, juga hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Islam. Akan tetapi juga piawai membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan permasalahan kebudayaan. Salah satu ulama Persis yang dikenal luwes dalam membahas persoalan kebudayaan ini adalah Mohammad Natsir. Selain Mohammad Natsir, A. Hassan guru Persatuan Islam yang juga anggota Majelis Ulama Persatuan Islam (Dewan Hisbah) pada masa itu juga mempublikasikan sebanyak dua jilid kumpulan sya’ir Islam juga empat jilid kumpulan humor yang dijudulinya Tertawa. Lalu pada era 1980-an tradisi penulisan kebudayaan ini berlanjut kepada generasi berikutnya yakni generasi Ust. Abdullah yang pada masa itu demikian piawai menulis gagasan-gagasannya dalam majalah Iber dengan menggunakan bahasa daerah. Lalu kepiawaian ust. Endang Abdurrahman dalam menyampaikan gagasan juga menuturkan sejarah Islam dalam bukunya Renungan Tarikh yang dikenal dengan keindahan bahasanya juga ketenangan dalam penuturan setiap kisahnya.

Kegemilangan sejarah di atas setidaknya bisa memberikan sebuah bukti bahwa dakwah Persatuan Islam (Persis) juga dibangun dengan dakwah-dakwah yang bersifat kebudayaan, meski pada kenyataannya bila menyaksikan konteks hari ini, kita menyaksikan sebagian asatidz Persatuan Islam sedikit antipati terhadap dakwah dengan medium budaya ini. Ini bisa dibuktikan dengan vakumnya Persis dari ranah pengkajian budaya. Berbeda halnya dengan Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia yang sudah sedari tahun 1960-an mendirikan Lesbumi sebagai salah satu wadah para budayawan, seniman juga sastrawan yang terdiri dari berbagai genre (aliran) seni ikut meramaikan pentas dakwah NU di kancah nasional. Pendirian Lesbumi menjadi semacam jawaban atas pendirian Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang pada masa itu digawangi oleh sastrawan kenamaan Indonesia yakni Pramoedya Ananta Toer yang notabenenya menjadi bagian dari kampanye Partai Komunis Indonesia yang pada masa itu demikian nyaring menentang bahkan mencegah dakwah Islam melalui medium kebudayaan.

Tentu, hal ini bisa dijadikan semacam pertarungan sengit melalui medium budaya dimana dua lembaga kebudayaan berada pada titik paling menentukan di masa itu. Beda halnya dengan Persis yang pada masa itu cenderung tertutup terhadap kebudayaan-kebudayaan yang lahir di luar. Persis di bawah kepemimpinan Endang Abdurrahman pada masa itu lebih memfokuskan kegiatan dakwahnya melalui jalan pendidikan dan juga pengembalian terhadap khittah Persis di masa awal. Hal itu bisa dipahami sebagai salah satu bentuk isolasi strategis yang dilancarkan Persis mengingat ada banyak oknum luar yang berusaha memanfaatkan keberadaan serta kehadiran Persis untuk mengeruk kepentingan pribadi. Akan tetapi, bila ditelisik lebih jauh maka pola isolasi strategis ini justru terkesan menciptakan gelombang dalam gelas. Riak intelektualitas Persis pada masa itu seperti terhambat. Adanya pakem atau suatu pemahaman bahwa garis intelektualitas asatidz juga kaum cendekiawan Persis pada masa itu lebih memainkan peranannya pada bidang pengkajian fiqih serta aturan-aturan syari’at. Ini terbukti dengan semakin kuatnya Dewan Hisbah Persis mengeluarkan fatwa-fatwa berkaitan dengan aturan berkehidupan jam’iyyah di masa-masa tersebut yang mana bila dikaji lebih dalam lagi ini bisa menjadi semacam benturan tersendiri ketika pada masa kepemimpinan berikutnya mulai memberlakukan jalan atau upaya berdakwah melalui jalan lain, salah satunya budaya.

Berkaca dari pendapat Mohammad Natsir dalam bukunya yang berjudul Capita Selecta, bahwa sudah seharusnya dakwah Persis bukan lagi dakwah yang dititikberatkan kepada salah satu masalah. Ada baiknya dakwah Persis bisa menyentuh bidang-bidang lain selama bidang-bidang itu tidak melanggar aturan syari’at Islam juga tidak mengarah pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat juga takhayul. Terlebih mengingat pesan ust. Shiddiq Amien tentang pembagian tugas dakwah di jam’iyyah berdasarkan kemampuan masing-masing. Persis boleh saja terpaku pada pola dakwah dengan pokok kajian fiqh. Akan tetapi pola penyampaian daripada kajian-kajian tersebut sudah seharusnya dikreasikan dengan pola dakwah lainnya. Salah satunya adalah sastra selama dalam pola penyampaian atau penulisannya tidak ada aturan syari’at Islam yang dilanggar juga tidak menjerumuskan pembaca atau pendengar pada hal-hal yang bersifat bid’ah, khurafat, takhayul dan juga taqlid yang berlebihan. Mengutip perkataan dari allahu yarham ust. Endang Abdurrahman bahwasannya dakwah Persis itu bukan untuk mencari puas melainkan untuk mencari jelas.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, menarik bilamana Persis mulai melirik sastra sebagai salah satu medium dakwahnya. Namun, sastra sebagai alat dakwah di sini tidak berarti harus berlepas dari hal-hal fiksi-nya, melainkan sastra tetap memberikan peranan sebagai bentuk tinjauan kritis, penelaahan juga penelitian terhadap produk atau fatwa yang dikeluarkan Dewan Hisbah Persis atau dalam penyampaian-penyampaian dakwah lainnya yang berkenaan dengan perihidup berjam’iyyah ke depannya. Sastra bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif jalan dakwah Persis ke depannya selama dalam perjalanannya tidak ada yang dilanggar baik itu aturan syari’at yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah juga tidak menjerumuskan umat kepada taqlid buta atau juga kepada hal-hal yang berbau bid’ah, khurafat dan takhayul.

Sumber Bacaan :

  • Howard M. Federspiel, Labirin Ideologi Muslim, Jakarta: Serambi, 2004
  • Mohammad Natsir, Kebudayaan Islam Dalam Prespektif Sejarah, Jakarta: PT. Girimukti Pasaka, 1988
  • S Moeljanto & Taufiq Ismail, Prahara Budaya, (Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI, dkk), Bandung: Penerbit Mizan, 1995
  • Persatuan Islam, Qanun Asasi, Qanun Dakhili, Pedoman Kerja dan Kaifiyah Kerja Dewan Hisbah, Bandung: PP. Persatuan Islam, 1995
  • Tiar Anwar Bachtiar dan Pepen Irfan Fauzan, Persis dan Politik : Sejarah dan Aksi Pemikiran Politik Persis 1923-1927, Jakarta: Pembela Islam Media, 2012
  • Philip K Hitti, History of The Arabs, Jakarta: Serambi, 2014

Balasan Tuba

Kisah ini saya dapati dari status seseorang beberapa bulan yang lalu. Disampaikan dengan nada geram bahkan penuh amarah. Ia sangat geram menyaksikan seorang ‘oknum’ yang disinyalir mengaku-ngaku. Seseorang yang mengeruk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan organisasi. Saya sendiri tidak tahu, siapa orangnya. Namun, saya justru tertarik pada kisah yang telah jalin berjalin di masa lalu tentang hal serupa tapi tak sama. Ketika jam’iyyah ini dipimpin seorang kharismatik bernama Endang Abdurrahman. Salah seorang murid kinasih Ahmad Hassan. Pada masanya, ketika riak dakwah Persis bersinggungan dengan riak-riak lain di pentas politik negeri. Tentang jejaring orang-orang yang bersimpang jalan mulai mencari simpatik, juga tentang tahun 60-an yang demikian panas akibat sengketa ideologi yang tak terselesaikan. Sampai pada satu titik, ada semacam pemaksaan untuk menerima apa yang kemudian kita kenal sebagai asas tunggal. Lalu, ada sebagian kalangan yang tiba-tiba saja mengaku sebagai bagian dari jam’iyyah. Sementara faktanya, mereka hanya menginginkan sesuatu. Sampai pada akhirnya, semua bermuara pada putusan memberlakukan isolasi strategis. Sebuah gerakan yang konon menimbulkan semacam gelombang dalam gelas. Namun, nyatanya tetap terasa demikian khidmat ketika akhirnya semua sama-sama tahu peran dan fungsinya sebagai bagian dari jam’iyyah. Sebuah gagasan cerdas yang dulu disangka akan membelenggu. Namun, ternyata ketika pada titik-titik tertentu mencoba membaca dan mengkhidmati peri hidup murid-murid beliau justru itu memang tidak terjadi. Sebab, yang menjadi pesan penting gagasan ini adalah jangan pernah kamu kerjakan apa yang bukan bagian kamu. Maka, soal-soal oknum itu ada baiknya tak diributkan ke permukaan. Bukan soal pantas atau tidaknya. Namun, ini soal bagaimana adab luhur para ulama kita mengajarkan bahwa ikhtiar dakwah adalah mengajak sampai ia mau menerima ajakan kita.

Ciparay, 08 Dzulhijjah 1438 H / 30 Agustus 2017 M

Aldy Istanzia Wiguna

Ulama

Hadjis bij een moskee te Rantau 1910(FILEminimizer)

Ulama adalah pewaris Nabi. Begitulah, pesan sederhana yang menggemakan seisi semesta. Pesan tentang betapa pentingnya peran seorang ‘alim dalam memandu perjalanan umat di setapak kehidupan. Peran yang tentu teramat berat sebab kelak geraknya adalah tuntunan, ujarnya adalah ikutan dan setiap tindakannya adalah panutan. Seseorang yang padanya beban berat risalah dipikulkan. Beban kebaikan yang kelak terbagi dengan begitu purna meski terkadang banyak kalimat cibiran, nyinyiran bahkan cacian dan makian yang mendarat di depan juga di belakangnya. Seseorang yang terkadang kurang dan lebihnya ikut dibincangkan. Seseorang yang tidak pernah lupa bahwa ilmu yang dikuasainya hanyalah titik-titik yang berusaha menemukan temu di sehampar kedalaman samudera ilmu-Nya. Seseorang yang kelak terbimbing dengan amanah membimbing umat menuju jalan cahaya. Seseorang yang padanyalah dulu kita pernah mengamanahkan sepotong episode perjuangan bangsa merebut kemerdekaannya. Padanya, abadi sosok-sosok tangguh nan faqih semisal Ahmad Hassan, Ahmad Dahlan Hasyim Asy’ari, Isa Anshary, Mohammad Natsir dan lain sebagainya. Pada sosok ini cermin keteladanan menjadi semacam telaga yang demikian jernih untuk diteguk kapan saja bilamana kita mulai merasa kekeringan. Mulai dari pelajaran tentang komitmen tulus membina dan membimbing umat. Juga komitmen membersamai perjuangan tanpa kenal lelah meski sesekali ada tersisa lubang nyeri di dada ketika menyaksikan sebagian santrinya pulang dan memilih jalan beda darinya.

Pada mereka di tengah tasyakur bangsa ini kita belajar tentang bagaimana seharusnya kita meneruskan tapak-tapak perjuangan mereka, merawat dan juga melanjutkan gagasan-gagasan besar mereka untuk mewujudkan kemaslahatan dan kebermanfaatan bagi bangsa seperti termaktub dalam doa kita bersama semoga kelak baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menjadi kenyataan. Dan semoga di tangan mereka dan ikhtiar kita menelusuri panjang perjalanan mereka, adab luhur mereka yang tersepuh Qur’an dan Hadits juga jalan-jalan lapang mereka demi menjaga marwah juga izzul Islam wal muslimin.

Bapak

anak-tanpa-ayah.jpg

Darinya, akan selalu ada kisah yang menggetarkan dada meski tak pernah terlisankan begitu rapi dari lidahnya. Ada doa-doa yang menyelinap lalu lindap di dada dan membuat perjalanan-perjalananmu tetap saling mempertemukan hingga memudahkan. Ia hadir dan tumbuh menjadi sosok yang tegas namun halus dalam memperlakukanmu. Sosok yang darinyalah alir keringat menderas menjadi daging kebermanfaatan juga kemaslahatan untuk perjalanan-perjalanan kita berikutnya. Sosok yang tidak akan pernah usai membabar cinta dan kasih sayangnya kepada kita meski dengan perlahan atau malu-malu ia ungkapkan perasaan-perasaan itu kepada kita. Sosok yang dengan tegar dan tabahnya melepas satu per satu anak-anaknya terlebih anak perempuannya ketika dengan tegaknya ia melepas sang anak untuk hidup menapakki satu per satu jalan tempuh yang baru bersama seorang asing yang kini karib ia sapa sebagai menantunya. Sosok yang alir keringatnya juga lelah dan penatnya menjadi sebab surga kian dekat dengan jalan panjangnya. Sosok yang terkadang terlupakan sebab di pundaknya ada demikian banyak beban yang seringkali tidak pernah bisa ia bagi kepada kita anak-anaknya. Sosok yang tetap tersenyum bangga menyaksikan keberhasilan anak-anaknya hingga terkadang ia lebih banyak dan sering menyembunyikan alir air matanya ketika tiap temali rasa bangganya memuncak dalam dada.

Sosok yang demikian dekat bahkan bisa jadi mulai jarang kita sapa. Sosok yang tangannya selalu kita jabat dan cium ketika sebelum berangkat kerja, ia masih setia mengantarkan kita ke sekolah. Senyum tulusnya selalu saja menular bahkan mengalirkan kebaikan-kebaikan lain kepada kita. Ia yang kemudian menjadi semacam pertanda bahwa kelak darinyalah kebaikan-kebaikan seharum surga kita dapat. Sosok yang sejatinya tetap mendekat, meski terkadang ada sekat tanpa batas yang teramat sering menghalangi kita untuk bisa mendalami kedalaman jiwanya. Dan darinya, kita belajar betapa menjadi sepertinya adalah pelajaran teramat berharga. Dan tentu, ia bisa menjadi kawanmu bertualang, temanmu berceloteh bahkan mencurahkan segala rasa. Ia yang doa-doanya tak pernah lupa kita pinta ketika di satu waktu kita memutuskan pergi meninggalkan rumah tempat pertama kali ia memberi kita pesan, merantaulah nak, agar kau tahu betapa luas perjalanan kebaikan yang kelak kau lewati. Lelaki yang selalu utuh memberikan cinta kasihnya kepada kita. Juga lelaki yang kemudian ada senarai ketetapan surga pada setiap langkah kakinya sebagaimana surga yang juga ditetapkan ada di telapak kaki bunda. Dan kepadanyalah, kita dengan gerak malu-malu berujar terima kasih atas setiap ikhtiar, peluh, juga kerja keras tanpa henti yang mengalirkan banyak kebermanfaatan dan kemaslahatan untuk hidup kita di hari kemudian.

Terima kasih, pak !

Sengkarut Benci

lilin-menyala

Ini bukan soal mengangkat yang (sengaja/tidak sengaja) dilupakan. Ini soal sederhana yang teramat sering kita babar panjang lebar dalam perjalanan kita sebagai anak manusia. Sengkarut yang tak pernah habisnya. Sengkarut yang terkadang memakan banyak korban, meski tanpa kita rasa bahkan sadari bersama. Ya, sengkarut benci yang terkadang memuncak dalam frasa sederhana berbunyi ‘dendam’. Sengkarut yang kemudian menyambungkan banyak perihal termasuk memutus temali silaturahim yang sedari awal perjalanan telah terjalin demikian rekat. Ya, terkadang silaturahim putus ketika sengkarut benci apalagi dendam memuncak dalam dada. Ketika perasaan-perasaan liar lainnya bertumbuh dengan begitu kuat bahkan sampai pada titik terendahnya ia berubah menjadi badai yang tak segan-segan memecah dan merecah temali ukhuwah kita.

Tengoklah sejenak beranda rumah tempat kita mengabadikan segalanya. Beranda yang kini riuh dengan kata-kata kasar. Beranda yang semakin kusut ketika satu per satu temali kebencian menemukan ruang untuk disambungkan. Ini bukan soal kekalahan, bukan pula soal bagaimana seseorang atau siapa saja dianggap layak menjadi panutan. Ini hanya soal kita yang terkadang masih malu-malu menimba ilmu dari kedalaman perjalanan, keteguhan juga kesabaran setiap tokoh yang namanya demikian syahdu kita jadikan sebagai tempat untuk saling menempa, menenun dan merawat gagasan, lalu menyambungkan tali temali peradaban yang kelak kokoh ketika kesehariannya bisa kita teladani bersama tanpa ada sekat batas. Namun, ada banyak rasa yang menolak dalam dada. Ada banyak ingatan yang tiba-tiba tersumpal atau bahkan dipaksa untuk diputuskan ketika nama-nama itu kembali dan tetap kembali kita simak betapa panjang perjalanan kebaikannya. Nama-nama yang di satu waktu pernah meninggalkan semacam perasaan benci hingga lubang nyeri di dada. Seseorang yang terkadang tidak pernah bisa kita terima betapa lapang kebaikannya. Sementara kita menjadi lebih sibuk untuk saling mengutuk, mencaci bahkan bersumpah serapah untuk tidak lagi mempelajari satu dua titik jalan keilmuannya. Sebab, ketika ilmu disebar tentu kebermanfaatan dan kemaslahatannya kelak akan kita petik dari manapun jalannya. Yang terpenting, sediakanlah dada yang lapang untuk kemudian bisa menerima segala kurang lebih dari mereka yang nyatanya sama seperti kita. Adapun yang dianggap terberat di setapak perjalanan kita kali ini adalah perjalanan memaafkan juga menerima hingga tidak ada lagi jutaan prasangka, sengkarut benci atau perasaan-perasaan nyeri yang tertinggal.

Dan pada akhirnya, sengkarut benci apalagi dendam bukan sesuatu yang layak kita panggungkan di tengah-tengah zaman yang kata sebagian orang seperti kehilangan tapak-tapak keteladanannya.***

 

semacam pengingat yang bahagia

Teman

204

: teruntuk Kholid Barkah dan calon penggenap hidupnya Hestri Nurhujaimah Shidiq

Id, pada akhirnya perjalanan-perjalanan itu akan semakin utuh di ujung harimu. Melepas lalu mengembalikan serangkaian tafsir atas dakuan-dakuan lapang yang menunjuk keberhasilan. Merahasiakan apa yang berangkat dalam diam. Menafsir kemudahan-kemudahan pada setiap jejak tentang keterangan dan ketenangan yang kembali meringkas alasan-alasan lain dalam hidup yang demikian sunyi ini. Saling mendaku hingga mengembalikan alasan sederhana ketika ada isyarat demi isyarat yang utuh mempersatukan dua perasaan menjadi satu. Abadi dalam doa-doa panjang yang saling merangkul ketika akhirnya perjalanan-perjalanan itu menemukan ujungnya. Lalu, ada yang bersitahan membersamai kebaikan-kebaikan lain di hidup ini. Memudahkan serangkaian pertanda dimana keajaiban dan keniscayaan menjadi semacam alamat akhir atas ikhtiar tanpa jeda yang merumuskan tualang-tualang lain untuk bersama kini.

Id, bilamana hidup menunjukkan kebaikan-kebaikannya kepadamu. Aku ingin engkau tetap bersyukur dan rendah hati terhadap orang-orang di sekelilingmu. Menjawab lusinan pertanyaan ketika angka demi angka berderet mengabadikan kebaikan-kebaikan utuh dalam diri sendiri. Menjawab sebagian pertanyaan dimana dakuan-dakuan kita adalah jawaban panjang yang melapangkan segala kebaikan di ujung sana. Merayakan hari-hari menakjubkan dalam doa-doa kita yang tak kunjung usai dirapalkan. Menjadi bagian dari kebaikan di sepanjang perjalanan keterasingan yang menyemarakkan hari-hari kita untuk mendekat dan mendaku sebagian kemenangan di ujung perayaan yang mengembalikan tautan-tautan penuh makna ketika akhirnya akad terucap dalam sebaris doa sederhana yang kembali mengantarkanmu untuk tetap berbahagia bersama. Merangkai apa saja yang bisa dirangkai ketika keajaiban-keajaiban itu tumbuh.

Id, kelak kita akan sama-sama menyuarakan bahagia dalam dada. Utuh membayangkan hari-hari asing yang kembali melingkupi apa saja yang berangkat kemudian di depan sana. Saling merangkul dan melengkapi hakikat-hakikat ketakberhinggaan dalam segala dakuan tentang perjalanan-perjalanan lapang di hari kemudian. Mencipta lalu mengabadikan sebagian tenun kebaikan untuk merahasiakan apa yang kembali membersamai kata. Menikmati hari-hari panjang yang melapangkan, merumuskan ketiadaan lalu meramu bahagia agar kelak ia tetap utuh membersamai. Mencatat lalu menafsirkan ruang-ruang lain yang mempertemukan senandung kebaikan dalam segala doa tentang bahagia bersamanya. Menikmati catatan demi catatan ketika akhirnya pertautan itu semakin melapangkan setiap rancang bangun kebaikan yang telah disusun bersama. Aku tahu, akan ada banyak rasa yang berhimpun membersamai. Menikmati bayang-bayang kebaikan dimana perjalanan adalah senarai rindu yang tak pernah kunjung selesai untuk dituntaskan. Lalu kembali berjalan dan meniadakan hari-hari genap dalam doa-doa sendiri.

Ciparay, 13 Agustus 2017 / 21 Dzulqa’dah 1438 H

Aldy Istanzia Wiguna