Masih Jauh

sepotong kisah untuk Azhar Nurun Ala

Azhar, surga yang kita rindu masih jauh di depan sana. Jauh ketika langkah-langkah kebaikan menjadi satu dari sekian banyak alamat yang hendak kita tuju. Aku ingin kita tetap bisa merengkuhnya, meraihnya lalu pulang membersamai doa-doa yang tak kunjung selesai dirapalkan. Aku ingin kita tetap saling mengingatkan meskipun batas ketinggian telah sama-sama kita raih. Berjabat tangan lalu pulang dan saling menyambung kebaikan hingga ujung perjalanan sama-sama memudahkan kita untuk tetap bisa berbuat baik sembari menyalakan kembali lampu-lampu maslahat dan manfaat menuju ridha-Nya.

Azhar, maaf bila surat ini datang ketika tampuk kesenangan dunia telah kita reguk. Maafkan pula bila aku tiba-tiba datang di ujung perjalananmu. Aku hanya ingin bercerita tentang tulisan-tulisanmu yang gerimis itu. Bertutur bahwa pada sebagian masa ada yang hilang dari setiap perjalananku. Menetes dan mengalir menjadi sungai di kedua pipiku. Lalu meninggalkan semacam lubang nyeri di dada. Kau tahu, aku masih bisa menikmati sajak-sajak dan ceritamu yang gerimis itu. Menjelma tenang ketika di akhir perjalanan kita sama-sama mengusung banyak impian. Melempar tawa ketika kehangatan dan gemuruh masa menjadi rindu yang mengembalikanmu pada masa-masa sebelum nikmat itu bisa kita reguk.

Azhar, nikmatilah setiap buah kebaikanmu. Syukuri bahwa pada satu masa kita memang telah melangkah jauh meninggalkan kenangan dan ingatan masa lalu di belakang sana. Tak perlu ragu apalagi merasa ada dengan kedatangan surat ini. Aku hanya ingin bercerita tentang rasa kagumku pada untaian kata dan kalimat berhikmahmu yang gerimis itu. Aku hanya ingin memesan bila pada akhirnya kita sama-sama diberi ruang untuk bercerita. Tolong izinkan aku untuk bisa sepertimu. Membaca, mengeja, menafsir juga menulis serangkaian kebersamaan dalam doa-doa yang tak kunjung selesai.

Azhar, izinkan aku mengagumi setiap kisah yang kau bisikkan dan tuliskan !

2016